Mottainai… ‘What a Waste’ !!!

tumblr_nobdumjtUN1su85gro1_r2_500.gif

Pada tulisan atau artikel saya sebelumnya sempat saya singgung tentang mottainai dan kebetulan ada beberapa sahabat yang bertanya apa itu mottainai? Sebenarnya mottainai ini sudah ada dan banyak jika kita search atau browsing menggunakan search engine. Selain mottanai, akan saya sedikit singgung beberapa etika atau kebiasaan di Jepang yang berhubungan dengan makanan dan kuliner. Mottainai adalah perasaan atau ungkapan penyesalan masyarakat jepang karena telah menyia-nyiakan sesuatu. Dalam hal menyia-nyiakan ini erat kaitannya dengan waktu dan makanan. Jadi jangan heran jika masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan makanan.

Mottainai dari sisi makanan ini berawal dari kesadaran masyarakat Jepang sendiri dimana Jepang tidak memiliki banyak lahan untuk pertanian. Karena hasil pertanian yang terbatas masyarakat Jepang benar-benar memanfaatkan dan mengkonsumsi makanan terutama hasil pertanian tanpa pernah menyisakan sedikitpun. Selain itu mereka (masyarakat Jepang) selalu menghabiskan makanan yang disajikan pada mereka sebagai bentuk salah satu respect atau menghargai jerih payah petani serta chef  yang sudah dengan susah payah menanam dan menyiapkan makanan dengan sepenuuh hati sehingga mereka dapat menikmati sajian atau makanan tersebut.

Didukung oleh sajian kuliner tradisional Jepang yang disebut Washoku dimana menu utama yang disajikan adalah nasi dan miso soup dan didampingi dengan menu-menu lain seperti seafood, sayur baik berupa acar maupun dimasak dengan kuah semacam sup, dan menu tambahan lain yang semuanya disajikan dalam porsi kecil dan cukup untuk satu orang. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang disajikan tidak ada yang disisakan dan terbuang dengan sia-sia. Jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita.

washoku

Di dalam masyarakat Jepang sendiri tidak menghabiskan makanan yang disajikan dianggap tidak sopan dan tidak memiliki rasa hormat terhadap makanan dan orang yang telah menyajikan makanan tersebut. Oleh karena itu sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah ditemui orang Jepang yang menyisakan makanan. Apabila menu atau makanan disajikan dalam porsi besar tidak jarang mereka memesan makanan untuk dimakan beramai-ramai dengan teman atau keluarga yang mungkin hal ini agak sedikit aneh bagi orang lain terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika.

Selain makanan, mottainai banyak digunakan sebagai penyesalan karena membuang-buang waktu dengan percuma. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang terkenal dengan ketepatan waktu. Menghargai waktu di dalam masyarakat Jepang tercermin dari ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta dan bus yang menjadi moda transportasi umum masyarakat Jepang dalam menjalani rutinitas mereka sehari-hari. Bila dibandingkan dengan Indonesia keterlambatan atau jam karet sudah menjadi budaya dan sepertinya sampai mendarah daging terutama dalam dunia transportasi.

Seandainya masyarakat Indonesia bisa sedikit lebih menghargai dan memiliki perasaan penyesalan karena telah menyia-nyiakan sesuatu mungkin cara dan pola berpikir masyarakat Indonesia akan menjadi lebih baik dan lebih hemat. Dimulai dari yang remeh dan simpel seperti waktu dan makanan kemudian bisa diaplikasikan dalam penggunaan listrik, air maupun bahan bakar. Mari kita mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri… DON’T WASTE IT!!!

dont waste.jpg

Not a Picky Eater!

Masih terkait dengan mottainai diatas saya sebutkan jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita. Di Jepang memilih-milih makanan dianggap tidak sopan dan cenderung kasar. Orang Jepang sendiri umumnya tidak memiliki kecenderungan memilih-milih makanan. Sangat berbeda dan berlawanan sekali dengan masyarakat Indonesia, dimana sering kita temui pelanggan memesan makanan dengan permintaan khusus tanpa ini itu. Oleh karena itu saat ini banyak ditemui restoran atau rumah makan di Jepang yang menawarkan atau menanyakan makanan apa yang tidak disukai oleh pelanggan khususnya orang asing agar tidak ada makanan yang tersisa.

Slurping

Slurping atau menghisap mie hingga bersuara sangat normal terjadi di Jepang. Semakin bersuara semakin baik. Mengeluarkan suara saat makan dianggap wajar dan sebagai bentuk penghormatan kepada chef atau koki. Suara yang dikeluarkan saat makan menggambarkan bahwa makanan yang disajikan enak dan pelanggan terlihat menikmati makanannya. Oleh karena itu di Jepang semakin bersuara pada saat makan semakin baik.

Mengangkat Piring atau Mangkuk.

Bagi sebagian orang mengangkat piring atau mangkuk pada saat makan merupakan tindakan yang tidak sopan. Namun kebiasaan orang Jepang makan dengan makan mengangkat piring atau mangkuk adalah hal yang normal bahkan meminum sup langsung dari mangkuk sudah biasa dilakukan. Jadi jangan terlalu berharap akan tersedia sendok khusus untuk sup dalam penyajian washoku. Mengangkat mangkok dan kemudian ‘menyeruput’ kuah ramen sudah bukan hal yang aneh terjadi di kedai-kedai ramen di Jepang.

 

source pic: google

Advertisements

Benarkah Bangsa Indonesia Merupakan Bangsa Yang Kurang Bersyukur?

mbah cokro

Masih teringat dengan jelas jalan acara forum diskusi “Membaca dan Menulis, Menggerakkan Sejarah.” yang diadakan di padepokan Mbak Tjokro. Sekilas tentang padepokan Mbah Tjokro adalah sebuah angkringan atau warung kopi yang menyajikan suasana dan nuansa tempoe doeloe yang secara rutin menyediakan sebuah acara atau forum diskusi terutama yang masih erat kaitannya tentang seni, budaya, pendidikan, ekonomi, politik bahkan sampai ke topik yang saat ini masih dan sedang ramai dibicarakan yaitu hoax. Bertujuan meneruskan ide dan perjuangan seorang guru bangsa di era kemerdekaan dan reformasi sekaligus ide dari pembuatan nama padepokan ini, yaitu H.O.S Tjokroaminoto.

Pada diskusi yang saya ikuti pada saat itu membahas tentang kebiasaan dan kreatifitas yaitu membaca dan menulis serta kaitannya dengan perjalanan sejarah dan bagian sejarah. Entah bagaimana kronologinya tiba-tiba pembicaraan dan diskusi menuju kemandirian dan penghematan. Walaupun melenceng dari pokok bahasan namun pembahasan ini menurut saya jauh lebih menarik ketimbang topik yang menjadi bahasan pada malam itu.

Berbicara mengenai penghematan sekaligus kemandirian maka contoh yang pas dan sesuai dengan dua kata itu adalah pangan atau lebih khususnya beras. Salah seorang narasumber yaitu Pak Sulistiyanto seorang Pemerhati Pendidikan sekaligus Budayawan di Surabaya menjelaskan jika pada era orde baru atau sekitar tahun 80-90an Indonesia terkenal sebagai negara agraria, negara lumbung padi yang selalu bisa dan dapat memenuhi kebutuhan pangan atau beras di dalam negeri dan mengekspor beras.

Namun fakta dan kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan keadaan saat ini dimana untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri saja tidak mampu apalagi mengekspor. Lebih lanjut Pak Sulistiyanto menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena kebiasaan yang ada ditengah masyarakat dewasa ini. Kebiasaan menyisakan makanan terutama nasi seakan sudah menjadi hal yang biasa. Bisa dibayangkan jika satu orang menyisakan beberapa butir nasi dalam sekali makan, makan sehari, sebulan, dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Berapa banyak ton beras yang bisa dihemat dalam sebulan?

Kemudian teringat sedikit cerita dari dua sahabat yang berasal dari Asia Timur yaitu Suzuki-san dari Jepang dan Mr. Song dari Korea Utara yang kemudian migrasi dan menjadi warga negara Korea Selatan. Masyarakat Jepang menurut cerita Suzuki-san sangat menghormati makanan hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Jepang yang membungkuk atau menghormat ketika akan masuk sebuah kedai atau rumah makan. Dan di Jepang menyisakan makanan dianggap tidak sopan dan tidak menghormati chef atau orang yang memasak makanan tersebut baik dirumah maupun dirumah direstoran. Perilaku tersebut termasuk konsep dasar budaya dan etika di Jepang. Disebut Mottaniai yang merupakan perasaan menyesal karena menyia-nyiakan sesuatu.

IMG_07991-1

Lebih detail lagi dari sahabat dari Korea yaitu Mr. Song. Beliau menjelaskan kenapa di Korea Utara begitu menghargai makanan bahkan sebutir nasi sekalipun sangat berharga bagi mereka. Hal ini dikarenakan Korea Utara pernah mengalami krisis pangan atau dilanda kelaparan pada saat terjadi perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Mereka diharuskan menghabiskan semua makanan yang disediakan untuk mereka karena menyisakan makanan dianggap menyia-nyiakan makanan dan kurang bersyukur.

Mungkin ini disebabkan kebiasaan ketika kecil kita tidak dibiasakan atau diharuskan untuk menghabiskan makanan yang disajikan untuk kita. Dan saya membandingkan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang kurang bersyukur dan menyia-nyiakan makanan. Mungkinkah memang masyarakat kita yang kurang atau tidak bersyukur atau karena sumber daya kita yang cukup melimpah sehingga kita terlena dan menyia-nyiakannya?