Benarkah Bangsa Indonesia Merupakan Bangsa Yang Kurang Bersyukur?

mbah cokro

Masih teringat dengan jelas jalan acara forum diskusi “Membaca dan Menulis, Menggerakkan Sejarah.” yang diadakan di padepokan Mbak Tjokro. Sekilas tentang padepokan Mbah Tjokro adalah sebuah angkringan atau warung kopi yang menyajikan suasana dan nuansa tempoe doeloe yang secara rutin menyediakan sebuah acara atau forum diskusi terutama yang masih erat kaitannya tentang seni, budaya, pendidikan, ekonomi, politik bahkan sampai ke topik yang saat ini masih dan sedang ramai dibicarakan yaitu hoax. Bertujuan meneruskan ide dan perjuangan seorang guru bangsa di era kemerdekaan dan reformasi sekaligus ide dari pembuatan nama padepokan ini, yaitu H.O.S Tjokroaminoto.

Pada diskusi yang saya ikuti pada saat itu membahas tentang kebiasaan dan kreatifitas yaitu membaca dan menulis serta kaitannya dengan perjalanan sejarah dan bagian sejarah. Entah bagaimana kronologinya tiba-tiba pembicaraan dan diskusi menuju kemandirian dan penghematan. Walaupun melenceng dari pokok bahasan namun pembahasan ini menurut saya jauh lebih menarik ketimbang topik yang menjadi bahasan pada malam itu.

Berbicara mengenai penghematan sekaligus kemandirian maka contoh yang pas dan sesuai dengan dua kata itu adalah pangan atau lebih khususnya beras. Salah seorang narasumber yaitu Pak Sulistiyanto seorang Pemerhati Pendidikan sekaligus Budayawan di Surabaya menjelaskan jika pada era orde baru atau sekitar tahun 80-90an Indonesia terkenal sebagai negara agraria, negara lumbung padi yang selalu bisa dan dapat memenuhi kebutuhan pangan atau beras di dalam negeri dan mengekspor beras.

Namun fakta dan kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan keadaan saat ini dimana untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri saja tidak mampu apalagi mengekspor. Lebih lanjut Pak Sulistiyanto menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena kebiasaan yang ada ditengah masyarakat dewasa ini. Kebiasaan menyisakan makanan terutama nasi seakan sudah menjadi hal yang biasa. Bisa dibayangkan jika satu orang menyisakan beberapa butir nasi dalam sekali makan, makan sehari, sebulan, dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Berapa banyak ton beras yang bisa dihemat dalam sebulan?

Kemudian teringat sedikit cerita dari dua sahabat yang berasal dari Asia Timur yaitu Suzuki-san dari Jepang dan Mr. Song dari Korea Utara yang kemudian migrasi dan menjadi warga negara Korea Selatan. Masyarakat Jepang menurut cerita Suzuki-san sangat menghormati makanan hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Jepang yang membungkuk atau menghormat ketika akan masuk sebuah kedai atau rumah makan. Dan di Jepang menyisakan makanan dianggap tidak sopan dan tidak menghormati chef atau orang yang memasak makanan tersebut baik dirumah maupun dirumah direstoran. Perilaku tersebut termasuk konsep dasar budaya dan etika di Jepang. Disebut Mottaniai yang merupakan perasaan menyesal karena menyia-nyiakan sesuatu.

IMG_07991-1

Lebih detail lagi dari sahabat dari Korea yaitu Mr. Song. Beliau menjelaskan kenapa di Korea Utara begitu menghargai makanan bahkan sebutir nasi sekalipun sangat berharga bagi mereka. Hal ini dikarenakan Korea Utara pernah mengalami krisis pangan atau dilanda kelaparan pada saat terjadi perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Mereka diharuskan menghabiskan semua makanan yang disediakan untuk mereka karena menyisakan makanan dianggap menyia-nyiakan makanan dan kurang bersyukur.

Mungkin ini disebabkan kebiasaan ketika kecil kita tidak dibiasakan atau diharuskan untuk menghabiskan makanan yang disajikan untuk kita. Dan saya membandingkan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang kurang bersyukur dan menyia-nyiakan makanan. Mungkinkah memang masyarakat kita yang kurang atau tidak bersyukur atau karena sumber daya kita yang cukup melimpah sehingga kita terlena dan menyia-nyiakannya?

Advertisements

Bebek Lepas Tulang Cak Selem – Gresik

Beberapa hari yang lalu sempat ada yang protes, kok mas Yuka ngga nulis tentang kuliner juga di blog. Baiklah jika demikan permintaannya mungkin mulai sekarang akan saya tambahkan opini saya tentang kuliner khususnya yang ada di Surabaya dan sekitarnya. Mungkin dengan adanya review saya disini akan menambah referensi kuliner bagi sahabat-sahabat saya di sini.

Postingan pertama saya tentang kuliner di blog ini adalah bebek. Di Jawa Timur ini kuliner yang terkenal salah satunya adalah bebek. Berbagai macam olahan bebek ditawarkan di Jawa Timur khususnya di Surabaya dan Madura yang menjadi pusat dari berbagai macam olahan kuliner bebek yang lezat. Dari sekian banyak rumah makan, restauran, depot, ataupun warung kaki lima yang menyajikan bebek sebagai sajian utamanya, pilihan kali ini jatuh pada Bebek Lepas Tulang Cak Selem.

Karena kebetulan sedang ada keperluan di kota Gresik dengan seorang sahabat sekaligus youtuber yang cukup ternama yaitu Cak Budiono Sukses. Sebenarnya agak sedikit bingung karena kurang familiar dengan kuliner dengan kota Gresik maka dengan sedikit bantuan dari teman-teman komunitas Surabaya Kuliner untuk informasi maupun masukan untuk menu atau makanan apa yang layak untuk dicoba.

Tak berselang lama sudah banyak komentar dan petunjuk tentang destinasi kuliner Gresik. Dan dari sekian banyak pilihan akhirnya pilihan jatuh pada bebek lepas tulang Cak Selem. Lokasinya tidak jauh dari Ramayana departemen store, tepatnya di jalan Gubernur Suryo no. 63. Bebek lepas tulang cak selem ini salah satu legenda kuliner di kota Gresik, bebeknya cukup terkenal bagi masyarakat Gresik dan sekitarnya.

Benar saja ketika sampai keadaan di lokasi bebek lepas tulang cak selem ini cukup ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati bebek lepas tulang. Tak perlu menunggu lama karena penyajiannya cukup cepat dan bebek lepas tulang cak selem bisa segera dinikmati. Sekilas jika diamati melalui penampakan bebek cak selem ini tidak dimasak dengan cara digoreng tetapi dimasak bersamaan dengan bumbu.

20170212_123959

Secara penyajian bebek lepas tulang ini disajikan terpotong seperti fillet bebek berbeda dengan olahan bebek pada umumnya yang disajikan secara potongan beserta tulangnya. Dan untuk rasa sendiri memang tidak perlu diragukan lagi. Gurih, asin dan campuran rempah bersatu dan berkolaborasi dengan daging bebek ditunjang dengan sambalnya yang aduhai rasanya benar-benar menggoyang lidah.

Dagingnya yang empuk, bumbu yang merasuk, dan sambalnya yang mantab. Jadi memang tidak diragukan lagi bebek cak selem ini salah satu legenda kuliner bebek di kota Gresik. Cukup ditebus dengan harga IDR 22.000 untuk satu porsi nasi bebek lepas tulang. Bagi yang penasaran bisa langsung segera meluncur ke Gresik ya teman ^_^y

Bebek Lepas Tulang Cak Selem
Jalan Gubernur Suryo no. 63
+6231 3971 174

Nasi Bebek Goreng Cak Selem