Sosial Media, Bakul Online dan Etika Komunikasi Marketing.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebutuhan akan teknologi dan informasi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Berbagai macam teknologi diciptakan dan inovasi terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Bukan hanya dalam bentuk gadget atau alat saja tetapi teknologi dan informasi juga dikembangkan, yang awal mulanya disepelekan orang namun saat ini sekarang mulai dilirik dan berhasil menjadi trend yang berkembang dengan sangat pesat. Siapa yang pada tahun 2017 ini tidak menggunakan sosial media? Sosial media ini digunakan oleh berbagai kalangan, usia, gender, dan profesi. Indonesia sendiri pengguna sosial media sudah mencapai puluhan jutaan atau bahkan ratus juga orang dan melalui sosial media pula peluang bisnis bisa diperoleh dan dikembangkan.

Fenomena sosial media yang menjadi lahan basah bagi para pelaku bisnis atau calon pelaku bisnis ini memang sangat menggiurkan. Potensi market atau pasar yang begitu menjanjikan membuat beberapa kalangan berlomba-lomba untuk menggunakan sosial media sebagai target atau sasaran dari kegiatan marketing. Beberapa contoh nyata marketing dalam menjaring para pengguna internet atau sosial media sebagai sasaran mereka adalah tim sukses calon pemimpin politik ataupun daerah mereka menbidik pengguna sosial media melalui berita-berita baik positif ataupun negatif untuk menjual calon yang mereka usung. Selain dari sisi politik ada juga online shop yaitu toko yang menjual dagangan tanpa toko secara fisik. Perkembangan online shop yang kian menjamur juga tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan transportasi online yang juga ramai sampai saat ini.

Jika beberapa saat lalu sempat saya singgung mengenai transportasi online yang sempat ramai dan menjadi perhatian masyarakat pada saat itu. Kali ini saya ingin sedikit membahas mengenai Online Shop. Online shop memang tersedia dalam layanan tersendiri atau web khusus, akan tetapi tidak sedikit pula para penjual atau bakul online tersebut menggunakan sosial media dan menyasar penggunanya sebagai sasaran marketing mereka.

Setelah malang melintang di dunia persilatan sosial media sebagai pengguna dan pengamat. Sebenarnya cukup banyak para penjual atau bakul online yang kurang bijak menurut saya dalam menggunakan sosial media sebagai sarana marketing ataupun dalam mencari target potensial buyer. Tidak dapat dipungkiri bahwa didalam bersosial media kita akan menemui berbagai macam karakter orang beserta postingannya. Ada yang suka posting sesuatu yang sedih, marah-marah, galau, curhat, nyinyir, cari perhatian, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang yang sering berhubungan dengan orang lain dalam pekerjaannya saya mencoba mengkaitkan antara sosial media, penjual online dan etika dalam komunikasi marketing. Sungguh disayangkan apabila sahabat saya yang berprofesi sebagai bakul online baik profesi utama ataupun sampingan. Sedikit banyak, etika dalam komunikasi marketing ini dapat mempengaruhi penjualan juga sisi psikologis dari customer maupun calon customer.

social-media-marketing-mumbai-digillence-rolson

Beberapa poin dalam etika marketing menurut harus diperhatikan oleh penjual atau bakul online dalam sosial media khususnya:

  1. Kejujuran.
    Foto atau gambar dari produk yang kita upload hendaknya merupakan hasil jepretan pribadi atau setidaknya sesuai dengan produk yang kita jual bukan merupakan hasil googling atau hasil foto pihak lain yang diambil tanpa ijin terlebih dahulu.
  2. Keterbukaan.
    Sering kali kita melihat postingan jualan yang tidak mencantumkan harga, dan ketika ditanya tentang harga jawabannya melalui PM (Private Message). Hal ini bisa menimbulkan beragam persepsi dari calon customer salah satunya harga berbeda yang diberikan pada pembeli yang berbeda terhadap barang yang sama.
  3. Positif.
    Diluar postingan jualan atau dagangan ada baiknya jika diselingi dengan postingan-postingan yang berunsur positif seperti motivasi, humor ataupun sekedar salam selamat pagi misalnya. Hindari postingan negatif seperti hoax, permasalahan keluarga/rumah tangga, curhat, ataupun nyinyir/nyindir terutama jika yang dimaksud adalah calon customer misalnya “Mbak ini tanya terus beli juga ngga?” atau “Beli cuma 2 minta free ongkir.”, dan lain lain.
  4. Luwes dan Friendly.
    Gunakan bahasa yang luwes agar lebih dekat dengan calon customer dan tidak kaku dalam menjawab komen ataupun dalam berinteraksi baik itu di postingan dagangan maupun postingan yang lain. Selingi dengan sedikit komen yang bernada canda atau humor agar lebih akrab karena tidak semua yang bisa membaca postingan atau komentar anda merupakan orang yang mengenal anda.
  5. Sabar dan Telaten.
    Usahakan jawab semua komen dan pertanyaan dengan segera karena tidak sedikit customer yang tidak sabaran dan ingin respon yang cepat, terutama jika ada komplain ataupun kiriman produk yang terhambat. Jangan memberi kesan terlalu defensive atau membela diri cukup dengarkan dengan sabar dan jelaskan dengan telaten serta tidak lupa diikuti permohonan maaf agar customer merasa dianggap dan dihargai. Hindari menjawab dengan nada ketus apalagi update status atau posting sesuatu yang berhubungan dengan komplain customer.
  6. Spamming dan Flooding.
    Dua hal ini sangat penting untuk dihindari atau jika perlu jangan dilakukan sama sekali. Spamming jualan atau produk kita melalui private message atau broadcast message sangat mengganggu minimaliskan untuk spamming terutama jika menggunakan aplikasi chat. Sedangkan untuk sosial media jangan flooding atau membanjiri timeline teman-teman anda dengan postingan jualan anda. Dua itu sangat mengganggu penggunanya entah itu aplikasi chat maupun sosial media.

Diatas merupakan beberapa hal yang harus diperhatian oleh penjual online terutama yang menggunakan sosial media sebagai media marketingnya. Jika memang sulit karena terkadang sebagai pengguna aktif sosial media juga ingin menulis uneg-uneg ataupun kekesalan melalui status atau postingan di sosial media. Apabila demikian hendaknya gunakan atau buat satu akun tersendiri yang mengkhususkan untuk berjualan karena customer anda bukan berarti teman anda yang benar-benar mengerti anda. Bisa jadi mereka hanya pengguna sosial media yang kebetulan suka dan cocok dengan produk yang anda jual. Tunjukkan image anda sebagai pribadi yang baik, karena pribadi yang baik merupakan cerminan dari marketing dan produk yang baik.

source pics: google

 

Advertisements