Afi Nihaya, Mita Handayani, Facebook dan Postingan 100 tahun lalu!

facebook

Berawal dari rasa penasaran seiring dengan mengemukanya persoalan “plagiat” yang menyeret salah satu author muda yang lagi naik daun karena tulisannya yang ‘katanya’ bisa menginspirasi dan hebat untuk anak muda seusianya yaitu Afi Nihaya Faradisa. Well saya tidak mau membahas Afi Nihaya Faradisa, Mita Handayani, ataupun tulisannya karena bagi saya none of my bussines dan sudah banyak yang membahas permasalahan itu baik perorangan pribadi maupun media.

Yang mau saya angkat disini adalah Facebook, iya Facebook yang itu. Tulisan Afi di publish pada tanggal 25 Mei yang lalu atau kurang lebih 10 hari lalu. Dan tiba-tiba ada klaim dari beberapa orang bahwa tulisan yang diupload atau bahasa kerennya diunggah oleh Afi merupakan hasil karya tulisan yang di publish kurang lebih setahun lebih awal, atau tanggal 30 Juni 2016 tepatnya. Dan kemudian yang menjadi perdebatan adalah karena tanggal posting di Facebook ternyata bisa di-edit atau diubah oleh si pemilik akun.

source: Facebook Azzam Mujahid Izzulhaq

Permasalahan tulisan Afi tersebut menjadi pro-kontra dan menjadi buah bibir yang sedang hangat dibicarakan oleh publik khususna netizen kita. Pihak yang kontra menjadikan tanggal publish atau tanggal dipostingnya tulisan tersebut sebagai dasar argumen yang menyatakan bahwa Afi melakukan plagiat terhadap karya tulis milik Mita. Sedangkan pada pihak yang pro atau membela Afi menyatakan bahwa tanggal dipostingnya tulisan Mita merupakan hasil editan. Dan inilah yang membuat saya menjadi penasaran. Jujur saja sedikit kaget memang, ternyata dugaan dari pihak yang pro atau mendukung Afi ternyata ada benarnya. Tidak tau mulai kapan hal ini bisa dilakukan namun pada kenyataannya postingan kita di Facebook bisa kita ubah sesuai kehendak kita. Terasa sedikit janggal memang tapi memang begitu adanya. Dan kebetulan saya mengubah postingan saya ke tanggal 2 Juni 1917 atau seratus tahun lalu!!

Saya tidak tau mengetahui tujuan Facebook apa dengan dibuatnya fitur ‘change date‘ ini. Semoga pihak Facebook tidak ikut-ikutan menggoreng berita yang memang akhir-akhir ini timbul sedikit perbedaan pendapat dikalangan masyarakat kita. Karena seperti yang kita ketahui beberapa postingan sponsor yang banyak kita jumpai atau bahasa kerennya bersliweran di timeline kita tidak sedikit yang bernada provokatif maupun berita kadaluarsa yang dengan sengaja diangkat lagi untuk menarik perhatian pembaca. Dan terbukti cara ini sangat ampuh menarik viewer sekaligus menggiring dan mengoreng opini di masyarakat.

facebook2

facebook3

Namun ada sedikit ciri yang membedakan apakah tanggal posting tersebut diubat atau tidak yaitu nampak ada simbol jam disamping tanggal post. Saya tidak tau apakah ini berlaku untuk semua pengguna Facebook atau hanya saya saja. Dan terakhir tanggal atau komen yang berada pada kolom komen tidak bisa diubah sehingga bisa dijadikan dasar perkiraan kapan tulisan tersebut diposting atau dipublikasi. Tapi lagi-lagi untuk hal itu saya tidak mau berspekulasi, silahkan sobat sekalian ambil kesimpulan sendiri, termasuk juga mengenai masalah Afi dan Mita. Harapan saya semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan segera terselesaikan dengan baik.

facebook4

Advertisements

Seandainya Pak Susilo Bambang Yudhoyono Bukan Seorang Mantan Presiden.

Mungkin sudah agak basi juga jika dibahas sekarang. Tapi jujur beberapa saat lalu saya sempat memposting status dengan gaya bahasa meniru cuitan seorang mantan presiden Republik Indonesia yaitu pak SBY. Saat itu meme dan postingan dengan gaya bahasa “Saya bertanya kepada bapak Presiden & Kapolri…” sempat ramai dan menjadi viral di sosial media, saya pun tak luput dari trend kala itu.

Tak lama setelah posting, saya kemudia berpikir bagaimana ya jika pak SBY itu bukan merupakan seorang mantan presiden yang pernah memimpin Indonesia selama 2 periode ini. Bukan membela ataupun berpihak kepada beliau tapi bagaimanapun juga beliau adalah mantan orang nomor satu di negara kita. Hormati pengabdiannya, ikuti prestasi dan sisi positif pribadinya. Jika ada yang mengganjal atau indikasi fraud selama masa kepemimpinan beliau bukan ranah dan/atau kapasitas saya untuk membahas masalah tersebut.

Kembali ke inti dari ide penulisan artikel ini, seandainya beliau (pak SBY) bukan mantan presiden apakah postingan atau cuitan beliau akan menimbulkan polemik? Apakah akan muncul meme soal beliau? Bukankah curahan hati atau menuangkan ide atau opini ke dalam postingan di sosial media sudah banyak dilakukan?

Latar Belakang

Pro dan kontra terhadap sosok presiden ke-6 RI bapak Susilo Bambang Yudhoyono ini sebenarnya sudah ada sejak beliau menjabat namun belum terlalu nampak atau sekencang ini beredar di masyarakat dan dunia maya khususnya. Selepas turun dari jabatan sebagai kepala negara sebenarnya pak SBY ini mendapat apresiasi dan terima kasih masyarakat secara luas. Hal ini nampak pada postingan bu Ani Yudhoyono di salah satu sosial media pada saat berkemas dan akan meninggalkan rumah dinas yaitu Istana Negara. Banyak komentar dari Netizen yang berterima kasih atas pengabdian pak SBY dan ketelatenan bu Ani selama mendampingi pak SBY sebagai presiden.

Akan tetapi hal ini berubah 180 derajat ketika pada saat pengumuman calon Gubernur DKI Jakarta untuk periode yang akan datang. Masyrakat sontak dibuat kaget dengan pengunduran diri mas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari kesatuan TNI dan maju mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI yang didukung oleh partai Demokrat. Partai dimana pak SBY menjadi ketua umum sejak bulan Maret 2013 menggantikan pak Anas Urbaningrum yang tersandung kasus.

Masuknya AHY ke dalam dunia politik ini mendapat reaksi kekecewaan dari sebagian masyarakat. Mereka menyayangkan keputusan AHY untuk mundur dari kesatuan. Padahal AHY memiliki masa depan karir yang cerah di dalam kesatuan TNI. Berbagai prestasi yang diraihnya selama mengabdi dan bertugas di kesatuan seakan tak mampu menggoyahkan niatnya untuk masuk ke dalam kancah dunia poitik.

Selain menyayangkan mundurnya AHY dari kesatuan, masyarakat juga menuding SBY sebagai dalang dari mundurnya AHY dari kesatuan. Masyarakat menganggap SBY belum bisa move on dari jabatannya sebagai kepala negara dan berusaha untuk membentuk dinasti Cikeas dan cikal bakal pengganti dinasti Cendana yang sudah dan pernah berkuasa selama 32 tahun.

Meskipun AHY telah kalah dalam PILKADA DKI Jakarta Pebruari lalu, tidak membuat serangan dan meme tentang mantan presiden ke-6 pak SBY ini serta merta berhenti. Apalagi ditunjang aktivitas beliau di sosial media melalui cuitan-cuitannya semakin menambah ide kreativitas masyarakat dalam membuat meme baik yang bersifat menyindir maupun hanya sekedar lelucon.

meme agus lucu.jpg
source: google

SBY Bukan Seorang Mantan Presiden!

Pernahkah anda membaca status curhatan teman atau bahkan status anda sendiri yang berisi curahan hati? Pernahkah membaca postingan ibu-ibu yang mengeluhkan mahalnya harga cabe saat ini? Bagaimana respon anda atau masyarakat pada umumnya? Paling emak-emak baper, biasalah cewek curhat terus, kebiasaan lama, dan lain sebagainya. Anda dan sebagaian orang lainnya menganggap hal itu biasa  dan normal, lalu bagaimana jika yang memposting atau curhat tersebut adalah seorang mantan kepala negara?

Seorang ayah atau orang tua membela dan mendukung anaknya adalah suatu hal yang wajar dan lumrah menurut saya. Lantas salahkah jika pak SBY mendukung AHY sebagai calon gubernur saat itu? Cuitan beliau, postingan beliau, ataupun pada saat beliau berbicara di publik atau di depan awak media itu wajar dalam kapasitasnya sebagai orang tua dan ketua umum sebuah partai dalam mendukung putra sekaligus calon dari partai yang dipimpinnya.

CtAgrLyUAAAc3q4.jpg
source: google

Lalu bagaimana jika seandainya pak SBY merupakan warga negara biasa. Paling postingan atau cuitan beliau di media sosial dianggap angin lalu, dianggap orang tua yang menuangkan opininya terkait kondisi politik dan kehidupan saat ini, dan juga bentuk dukungan dari seorang ayah untuk anaknya. Tidak akan ada cuitan menyerupai gaya bahasa atau bahkan meme dari pak SBY. Mungkin orang juga akan bertanya siapa dia sampai ada meme-nya segala.

Terlepas dari apa, siapa dan bagaimana masa lalunya, beliau adalah warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita. Termasuk sharing, posting maupun cuitan-cuitan di sosial media bebas seperti yang dilakukan oleh saya, anda, dan kita semua sebagai pengguna sosial media. Kebebasan berbicara termasuk di sosial media juga dilindungi oleh undang-undang  yang sama. Jika beliau bukan siapa-siapa jangankan cacian atau hinaan, mungkin orang tidak akan ada yang membalas cuitan beliau atau bahkan sekedar membacanya pun tidak.

Diluar permasalahan yang  beliau hadapi, serta kesalahan dan permasalahan yang belum terselesaikan selama masa pemerintahannya biar pihak terkait yang berkapasitas untuk melakukannya. Dalam artikel ini saya berpesan bahwa dimanapun, bagaimanapun dan dengan siapapun  kita harus dan wajib menghormati hak orang lain sebelum kita menuntut orang lain untuk menghormati kita dan hak kita, terlebih beliau adalah mantan orang nomor satu.

Seperti kata-kata bung Karno dalam pidatonya, “Jangan sekali-sekali meninggalkan (melupakan) sejarah.”. Dan ak SBY merupakan bagian dari sejarah bangsa dan kepemimpinannya selama 10 tahun tak dapat dihapuskan atau bahkan kita lupakan begitu saja. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan jika ada yang menyimpang jangan dicontoh karena mencontoh itu perbuatan tidak baik, alih-alih mendapat nilai bagus yang ada malah ancaman untuk tidak naik kelas!