AWAS PEDOFIL BERKUMPUL di MEDIA SOSIAL!

Marah, jijik, geram, miris, sedih! Begitulah ekspresi saya begitu mendengar berita yang sedang viral beberapa hari ini. Polisi berhasil membongkar komunitas pedofil di salah satu media sosial (medsos). Tidak tanggung-tanggung jumlah member atau anggota grup tersebut mencapai 7 ribu lebih. Sebenarnya saya sangat menyayangkan karena hanya sekitar 10 orang saja yang ditangkap dan diamankan oleh pihak kepolisian, mengingat member yang begitu banyak harusnya polisi dapat mengungkap lebih banyak lagi pelaku pedofil.

Well, pada awal konsepnya blog ini seharusnya menulis tentang opini dari sudut pandang orang ketiga atau setidaknya menulis opini dari kacamata kedua belah pihak. Tapi untuk kali ini seriously saya ogah. Karena saya termasuk yang ANTI dan dengan TEGAS MENOLAK keberadan pedofil di dalam atau di tengah-tengah masyarakat kita. Walaupun belum menikah dan mempunyai anak, tapi saya memiliki banyak keponakan yang sangat saya sayangi baik itu dari saudara atau sahabat. Sungguh tak sanggup membayangkan apabila salah satu dari mereka menjadi korban.

Dalam komunitas pedofil di salah satu jejaring sosial, mereka berbagi info dan tips bagaimana mencari, menghasut dan membujuk para korban. Bahkan tidak segan men-share atau membagikan foto maupun video para korban dari perilaku keji mereka. Ya keji karena mereka menggunakan berbagai macam tipu daya dan bujuk rayu agar korban yang masih anak-anak tersebut tertarik untuk mendekat atau mendatangi mereka. Salah satu cara yang mereka anggap ampuh adalah memelihara binatang seperti kelinci, kucing, ikan yang dianggap bisa menarik perhatian anak kecil.

pedo

Dan ada pula yang memberikan saran agar harus bisa sulap atau melucu sehingga korban atau calon korban tertarik dengan sulap atau guyonan mereka. Begitu sudah dekat atau akrab mereka akan mulai membujuk korban agar melakukan apa yang mereka inginkan. Karena korban dari kasus pedofil ini merupakan anak-anak jadi mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan atas permintaan pelaku tersebut salah dan tidak baik untuk dilakukan.

Melihat atau menanggapi berita mengenai pedofil ini menyulut emosi masyarakat khususnya para orang tua. Mereka menganggap dengan adanya komunitas pedofil tersebut cukup meresahkan dan berbahaya terutama setelah membaca cuplikan beberapa postingan di group tersebut yang sempat ter-capture dan menjadi viral di media sosial. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menuntut agar pelaku pedofil ini dihukum seberat-beratnya dan hukuman mati jika perlu. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang sahabah saya melalu salah satu akunnya di sosial media, beliau meminta agar Presiden Republik Indonesia Bapak  Joko Widodo segera memberikan perhatian agar para pelaku pedofil dapat diungkap dan diberikan hukuman semaksimal mungkin.

pedofil ce atha

Ada yang membuat saya heran adalah kenapa pada saat penangkapan pelaku pedofil ini identitas pelaku disembunyikan dan wajah mereka ditutupi oleh pihak kepolisian. Padahal seharusnya pihak kepolisian membuka dengan jelas mengenai identitas pelaku agar masyarakat bisa dan dapat lebih berhati-hati kelak. Second chance atau kesempatan kedua bagi saya tidak layak bagi para pelaku pedofil. Karena mereka telah merusak masa depan dan dapat mempengaruhi kejiwaan mereka kelak ketika sudah dewasa.

Saya merasa HAM juga tidak sepatutnya atau seharusnya membela mereka para pelaku pedofil tersebut. Pihak HAM juga harus melihak hak dari para korban yang sudah dirampas dengan keji. Melalui tulisan dan opini saya ini saya memohon kepada pihak berwajib yaitu Kepolisian Republik Indonesia dapat mengungkap kasus pedofilia dan menagkap para pelakunya sesegera mungkin.

 

pics source : google

Advertisements

Sepasang ABG Ketahuan Mesum di Sebuah Fitting Room Salah Satu Mall di Surabaya!

fitting-room

 

Muke gile! Ya itulah ekspresi saya begitu mendengar berita ini dari seorang sahabat pada saat hangout semalam. Secara tidak sengaja sahabat saya itu membuka instagram dan kebetulan juga ada sebuah video menarik yang diunggah oleh akun @lambe_turah. Video tersebut cuplikan kejadian dimana sepasang muda dan mudi terpergok oleh SPG dan satpam di sebuah pusat perbelanjaan atau Mall di Surabaya.

Dalam salah satu adegan terdengar dan terlihat bahwa kedua ABG tersebut mendapat tekanan dan intimidasi. Terdengar beberapa kali satpam dan SPG membentah serta melarang kedua ABG tersebut memakai pakaian mereka kembali. Tidak puas dengan membentak, keduanya dipaksa keluar dengan pakaian yang tidak semestinya dan di permalukan di depan umum.

Kontan video tersebut dibanjiri oleh komentar-komentar Netizen. Beragam reaksi terhadap video yang berdurasi kurang lebih satu menit itu. Ada yang menyalahkan, ada yang menyayangkan, ada komen dengan candaan, dan banyak pula yang marah. Yang menarik adalah marahnya para Netizen ini diarahkan kepada satpam serta SPG yang berada di video tersebut.

Mereka marah karena satpam dan SPG di dalam video tidak memberi kesempatan kepada para ABG tersebut untuk menggunakan kembali pakaian yang mereka kenakan. Terlihat jelas ketika salah satu tangan mencoba menarik pakaian dan mengambilnya saat akan coba dikenakan kembali. Tak selang berapa lama mereka digiring keluar tanpa mengenakan pakaian yang pantas.

Miris jika kita menilik permasalahan ini lebih dalam. Salah ya jelas sekali bahwa kedua ABG ini telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan dan melakukannya di tempat umum pula. Namun tidak seharusnya para satpam dan SPG itu memperlakukan mereka seperti itu. Atau setidaknya persilahkan mereka untuk mengenakan pakaian yang pantas sebelum disuruh keluar dari fitting room.

Melihat usia mereka pantaskah mereka diperlakukan secara kejam seperti itu? Dengan tertangkapnya mereka seharusnya itu sudah membuat mereka kapok. Hukuman sosial dengan cara mempermalukan mereka di depan umum dengan pakaian tidak layak justru akan membuat mereka down, menjadi bahan bully-an, dan terburuknya jika mereka sampai bunuh diri akibat menanggung malu.

Mereka bukan pelaku kriminal atau narkoba yang sifatnya merusak. Mereka salah karena melakukan sesuatu yang belum saatnya mereka lakukan. Mendidik dan mengarahkan remaja ABG seperti mereka merupakan jalan yang terbaik dengan memberi hukuman yang pantas untuk anak seusia mereka saya rasa sudah cukup. Dengan peran aktif keluarga, guru dan masyarakat dalam mendidik dan mengarahkan serta mengawasi juga diharapkan mampu membantu mereka dalam mencari jati diri dan kembali ke arah yang positif.