Afi Nihaya, Mita Handayani, Facebook dan Postingan 100 tahun lalu!

facebook

Berawal dari rasa penasaran seiring dengan mengemukanya persoalan “plagiat” yang menyeret salah satu author muda yang lagi naik daun karena tulisannya yang ‘katanya’ bisa menginspirasi dan hebat untuk anak muda seusianya yaitu Afi Nihaya Faradisa. Well saya tidak mau membahas Afi Nihaya Faradisa, Mita Handayani, ataupun tulisannya karena bagi saya none of my bussines dan sudah banyak yang membahas permasalahan itu baik perorangan pribadi maupun media.

Yang mau saya angkat disini adalah Facebook, iya Facebook yang itu. Tulisan Afi di publish pada tanggal 25 Mei yang lalu atau kurang lebih 10 hari lalu. Dan tiba-tiba ada klaim dari beberapa orang bahwa tulisan yang diupload atau bahasa kerennya diunggah oleh Afi merupakan hasil karya tulisan yang di publish kurang lebih setahun lebih awal, atau tanggal 30 Juni 2016 tepatnya. Dan kemudian yang menjadi perdebatan adalah karena tanggal posting di Facebook ternyata bisa di-edit atau diubah oleh si pemilik akun.

source: Facebook Azzam Mujahid Izzulhaq

Permasalahan tulisan Afi tersebut menjadi pro-kontra dan menjadi buah bibir yang sedang hangat dibicarakan oleh publik khususna netizen kita. Pihak yang kontra menjadikan tanggal publish atau tanggal dipostingnya tulisan tersebut sebagai dasar argumen yang menyatakan bahwa Afi melakukan plagiat terhadap karya tulis milik Mita. Sedangkan pada pihak yang pro atau membela Afi menyatakan bahwa tanggal dipostingnya tulisan Mita merupakan hasil editan. Dan inilah yang membuat saya menjadi penasaran. Jujur saja sedikit kaget memang, ternyata dugaan dari pihak yang pro atau mendukung Afi ternyata ada benarnya. Tidak tau mulai kapan hal ini bisa dilakukan namun pada kenyataannya postingan kita di Facebook bisa kita ubah sesuai kehendak kita. Terasa sedikit janggal memang tapi memang begitu adanya. Dan kebetulan saya mengubah postingan saya ke tanggal 2 Juni 1917 atau seratus tahun lalu!!

Saya tidak tau mengetahui tujuan Facebook apa dengan dibuatnya fitur ‘change date‘ ini. Semoga pihak Facebook tidak ikut-ikutan menggoreng berita yang memang akhir-akhir ini timbul sedikit perbedaan pendapat dikalangan masyarakat kita. Karena seperti yang kita ketahui beberapa postingan sponsor yang banyak kita jumpai atau bahasa kerennya bersliweran di timeline kita tidak sedikit yang bernada provokatif maupun berita kadaluarsa yang dengan sengaja diangkat lagi untuk menarik perhatian pembaca. Dan terbukti cara ini sangat ampuh menarik viewer sekaligus menggiring dan mengoreng opini di masyarakat.

facebook2

facebook3

Namun ada sedikit ciri yang membedakan apakah tanggal posting tersebut diubat atau tidak yaitu nampak ada simbol jam disamping tanggal post. Saya tidak tau apakah ini berlaku untuk semua pengguna Facebook atau hanya saya saja. Dan terakhir tanggal atau komen yang berada pada kolom komen tidak bisa diubah sehingga bisa dijadikan dasar perkiraan kapan tulisan tersebut diposting atau dipublikasi. Tapi lagi-lagi untuk hal itu saya tidak mau berspekulasi, silahkan sobat sekalian ambil kesimpulan sendiri, termasuk juga mengenai masalah Afi dan Mita. Harapan saya semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan segera terselesaikan dengan baik.

facebook4

Advertisements

Mottainai… ‘What a Waste’ !!!

tumblr_nobdumjtUN1su85gro1_r2_500.gif

Pada tulisan atau artikel saya sebelumnya sempat saya singgung tentang mottainai dan kebetulan ada beberapa sahabat yang bertanya apa itu mottainai? Sebenarnya mottainai ini sudah ada dan banyak jika kita search atau browsing menggunakan search engine. Selain mottanai, akan saya sedikit singgung beberapa etika atau kebiasaan di Jepang yang berhubungan dengan makanan dan kuliner. Mottainai adalah perasaan atau ungkapan penyesalan masyarakat jepang karena telah menyia-nyiakan sesuatu. Dalam hal menyia-nyiakan ini erat kaitannya dengan waktu dan makanan. Jadi jangan heran jika masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan makanan.

Mottainai dari sisi makanan ini berawal dari kesadaran masyarakat Jepang sendiri dimana Jepang tidak memiliki banyak lahan untuk pertanian. Karena hasil pertanian yang terbatas masyarakat Jepang benar-benar memanfaatkan dan mengkonsumsi makanan terutama hasil pertanian tanpa pernah menyisakan sedikitpun. Selain itu mereka (masyarakat Jepang) selalu menghabiskan makanan yang disajikan pada mereka sebagai bentuk salah satu respect atau menghargai jerih payah petani serta chef  yang sudah dengan susah payah menanam dan menyiapkan makanan dengan sepenuuh hati sehingga mereka dapat menikmati sajian atau makanan tersebut.

Didukung oleh sajian kuliner tradisional Jepang yang disebut Washoku dimana menu utama yang disajikan adalah nasi dan miso soup dan didampingi dengan menu-menu lain seperti seafood, sayur baik berupa acar maupun dimasak dengan kuah semacam sup, dan menu tambahan lain yang semuanya disajikan dalam porsi kecil dan cukup untuk satu orang. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang disajikan tidak ada yang disisakan dan terbuang dengan sia-sia. Jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita.

washoku

Di dalam masyarakat Jepang sendiri tidak menghabiskan makanan yang disajikan dianggap tidak sopan dan tidak memiliki rasa hormat terhadap makanan dan orang yang telah menyajikan makanan tersebut. Oleh karena itu sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah ditemui orang Jepang yang menyisakan makanan. Apabila menu atau makanan disajikan dalam porsi besar tidak jarang mereka memesan makanan untuk dimakan beramai-ramai dengan teman atau keluarga yang mungkin hal ini agak sedikit aneh bagi orang lain terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika.

Selain makanan, mottainai banyak digunakan sebagai penyesalan karena membuang-buang waktu dengan percuma. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang terkenal dengan ketepatan waktu. Menghargai waktu di dalam masyarakat Jepang tercermin dari ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta dan bus yang menjadi moda transportasi umum masyarakat Jepang dalam menjalani rutinitas mereka sehari-hari. Bila dibandingkan dengan Indonesia keterlambatan atau jam karet sudah menjadi budaya dan sepertinya sampai mendarah daging terutama dalam dunia transportasi.

Seandainya masyarakat Indonesia bisa sedikit lebih menghargai dan memiliki perasaan penyesalan karena telah menyia-nyiakan sesuatu mungkin cara dan pola berpikir masyarakat Indonesia akan menjadi lebih baik dan lebih hemat. Dimulai dari yang remeh dan simpel seperti waktu dan makanan kemudian bisa diaplikasikan dalam penggunaan listrik, air maupun bahan bakar. Mari kita mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri… DON’T WASTE IT!!!

dont waste.jpg

Not a Picky Eater!

Masih terkait dengan mottainai diatas saya sebutkan jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita. Di Jepang memilih-milih makanan dianggap tidak sopan dan cenderung kasar. Orang Jepang sendiri umumnya tidak memiliki kecenderungan memilih-milih makanan. Sangat berbeda dan berlawanan sekali dengan masyarakat Indonesia, dimana sering kita temui pelanggan memesan makanan dengan permintaan khusus tanpa ini itu. Oleh karena itu saat ini banyak ditemui restoran atau rumah makan di Jepang yang menawarkan atau menanyakan makanan apa yang tidak disukai oleh pelanggan khususnya orang asing agar tidak ada makanan yang tersisa.

Slurping

Slurping atau menghisap mie hingga bersuara sangat normal terjadi di Jepang. Semakin bersuara semakin baik. Mengeluarkan suara saat makan dianggap wajar dan sebagai bentuk penghormatan kepada chef atau koki. Suara yang dikeluarkan saat makan menggambarkan bahwa makanan yang disajikan enak dan pelanggan terlihat menikmati makanannya. Oleh karena itu di Jepang semakin bersuara pada saat makan semakin baik.

Mengangkat Piring atau Mangkuk.

Bagi sebagian orang mengangkat piring atau mangkuk pada saat makan merupakan tindakan yang tidak sopan. Namun kebiasaan orang Jepang makan dengan makan mengangkat piring atau mangkuk adalah hal yang normal bahkan meminum sup langsung dari mangkuk sudah biasa dilakukan. Jadi jangan terlalu berharap akan tersedia sendok khusus untuk sup dalam penyajian washoku. Mengangkat mangkok dan kemudian ‘menyeruput’ kuah ramen sudah bukan hal yang aneh terjadi di kedai-kedai ramen di Jepang.

 

source pic: google

Benarkah Bangsa Indonesia Merupakan Bangsa Yang Kurang Bersyukur?

mbah cokro

Masih teringat dengan jelas jalan acara forum diskusi “Membaca dan Menulis, Menggerakkan Sejarah.” yang diadakan di padepokan Mbak Tjokro. Sekilas tentang padepokan Mbah Tjokro adalah sebuah angkringan atau warung kopi yang menyajikan suasana dan nuansa tempoe doeloe yang secara rutin menyediakan sebuah acara atau forum diskusi terutama yang masih erat kaitannya tentang seni, budaya, pendidikan, ekonomi, politik bahkan sampai ke topik yang saat ini masih dan sedang ramai dibicarakan yaitu hoax. Bertujuan meneruskan ide dan perjuangan seorang guru bangsa di era kemerdekaan dan reformasi sekaligus ide dari pembuatan nama padepokan ini, yaitu H.O.S Tjokroaminoto.

Pada diskusi yang saya ikuti pada saat itu membahas tentang kebiasaan dan kreatifitas yaitu membaca dan menulis serta kaitannya dengan perjalanan sejarah dan bagian sejarah. Entah bagaimana kronologinya tiba-tiba pembicaraan dan diskusi menuju kemandirian dan penghematan. Walaupun melenceng dari pokok bahasan namun pembahasan ini menurut saya jauh lebih menarik ketimbang topik yang menjadi bahasan pada malam itu.

Berbicara mengenai penghematan sekaligus kemandirian maka contoh yang pas dan sesuai dengan dua kata itu adalah pangan atau lebih khususnya beras. Salah seorang narasumber yaitu Pak Sulistiyanto seorang Pemerhati Pendidikan sekaligus Budayawan di Surabaya menjelaskan jika pada era orde baru atau sekitar tahun 80-90an Indonesia terkenal sebagai negara agraria, negara lumbung padi yang selalu bisa dan dapat memenuhi kebutuhan pangan atau beras di dalam negeri dan mengekspor beras.

Namun fakta dan kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan keadaan saat ini dimana untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri saja tidak mampu apalagi mengekspor. Lebih lanjut Pak Sulistiyanto menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena kebiasaan yang ada ditengah masyarakat dewasa ini. Kebiasaan menyisakan makanan terutama nasi seakan sudah menjadi hal yang biasa. Bisa dibayangkan jika satu orang menyisakan beberapa butir nasi dalam sekali makan, makan sehari, sebulan, dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Berapa banyak ton beras yang bisa dihemat dalam sebulan?

Kemudian teringat sedikit cerita dari dua sahabat yang berasal dari Asia Timur yaitu Suzuki-san dari Jepang dan Mr. Song dari Korea Utara yang kemudian migrasi dan menjadi warga negara Korea Selatan. Masyarakat Jepang menurut cerita Suzuki-san sangat menghormati makanan hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Jepang yang membungkuk atau menghormat ketika akan masuk sebuah kedai atau rumah makan. Dan di Jepang menyisakan makanan dianggap tidak sopan dan tidak menghormati chef atau orang yang memasak makanan tersebut baik dirumah maupun dirumah direstoran. Perilaku tersebut termasuk konsep dasar budaya dan etika di Jepang. Disebut Mottaniai yang merupakan perasaan menyesal karena menyia-nyiakan sesuatu.

IMG_07991-1

Lebih detail lagi dari sahabat dari Korea yaitu Mr. Song. Beliau menjelaskan kenapa di Korea Utara begitu menghargai makanan bahkan sebutir nasi sekalipun sangat berharga bagi mereka. Hal ini dikarenakan Korea Utara pernah mengalami krisis pangan atau dilanda kelaparan pada saat terjadi perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Mereka diharuskan menghabiskan semua makanan yang disediakan untuk mereka karena menyisakan makanan dianggap menyia-nyiakan makanan dan kurang bersyukur.

Mungkin ini disebabkan kebiasaan ketika kecil kita tidak dibiasakan atau diharuskan untuk menghabiskan makanan yang disajikan untuk kita. Dan saya membandingkan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang kurang bersyukur dan menyia-nyiakan makanan. Mungkinkah memang masyarakat kita yang kurang atau tidak bersyukur atau karena sumber daya kita yang cukup melimpah sehingga kita terlena dan menyia-nyiakannya?

Sosial Media, Bakul Online dan Etika Komunikasi Marketing.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebutuhan akan teknologi dan informasi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Berbagai macam teknologi diciptakan dan inovasi terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Bukan hanya dalam bentuk gadget atau alat saja tetapi teknologi dan informasi juga dikembangkan, yang awal mulanya disepelekan orang namun saat ini sekarang mulai dilirik dan berhasil menjadi trend yang berkembang dengan sangat pesat. Siapa yang pada tahun 2017 ini tidak menggunakan sosial media? Sosial media ini digunakan oleh berbagai kalangan, usia, gender, dan profesi. Indonesia sendiri pengguna sosial media sudah mencapai puluhan jutaan atau bahkan ratus juga orang dan melalui sosial media pula peluang bisnis bisa diperoleh dan dikembangkan.

Fenomena sosial media yang menjadi lahan basah bagi para pelaku bisnis atau calon pelaku bisnis ini memang sangat menggiurkan. Potensi market atau pasar yang begitu menjanjikan membuat beberapa kalangan berlomba-lomba untuk menggunakan sosial media sebagai target atau sasaran dari kegiatan marketing. Beberapa contoh nyata marketing dalam menjaring para pengguna internet atau sosial media sebagai sasaran mereka adalah tim sukses calon pemimpin politik ataupun daerah mereka menbidik pengguna sosial media melalui berita-berita baik positif ataupun negatif untuk menjual calon yang mereka usung. Selain dari sisi politik ada juga online shop yaitu toko yang menjual dagangan tanpa toko secara fisik. Perkembangan online shop yang kian menjamur juga tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan transportasi online yang juga ramai sampai saat ini.

Jika beberapa saat lalu sempat saya singgung mengenai transportasi online yang sempat ramai dan menjadi perhatian masyarakat pada saat itu. Kali ini saya ingin sedikit membahas mengenai Online Shop. Online shop memang tersedia dalam layanan tersendiri atau web khusus, akan tetapi tidak sedikit pula para penjual atau bakul online tersebut menggunakan sosial media dan menyasar penggunanya sebagai sasaran marketing mereka.

Setelah malang melintang di dunia persilatan sosial media sebagai pengguna dan pengamat. Sebenarnya cukup banyak para penjual atau bakul online yang kurang bijak menurut saya dalam menggunakan sosial media sebagai sarana marketing ataupun dalam mencari target potensial buyer. Tidak dapat dipungkiri bahwa didalam bersosial media kita akan menemui berbagai macam karakter orang beserta postingannya. Ada yang suka posting sesuatu yang sedih, marah-marah, galau, curhat, nyinyir, cari perhatian, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang yang sering berhubungan dengan orang lain dalam pekerjaannya saya mencoba mengkaitkan antara sosial media, penjual online dan etika dalam komunikasi marketing. Sungguh disayangkan apabila sahabat saya yang berprofesi sebagai bakul online baik profesi utama ataupun sampingan. Sedikit banyak, etika dalam komunikasi marketing ini dapat mempengaruhi penjualan juga sisi psikologis dari customer maupun calon customer.

social-media-marketing-mumbai-digillence-rolson

Beberapa poin dalam etika marketing menurut harus diperhatikan oleh penjual atau bakul online dalam sosial media khususnya:

  1. Kejujuran.
    Foto atau gambar dari produk yang kita upload hendaknya merupakan hasil jepretan pribadi atau setidaknya sesuai dengan produk yang kita jual bukan merupakan hasil googling atau hasil foto pihak lain yang diambil tanpa ijin terlebih dahulu.
  2. Keterbukaan.
    Sering kali kita melihat postingan jualan yang tidak mencantumkan harga, dan ketika ditanya tentang harga jawabannya melalui PM (Private Message). Hal ini bisa menimbulkan beragam persepsi dari calon customer salah satunya harga berbeda yang diberikan pada pembeli yang berbeda terhadap barang yang sama.
  3. Positif.
    Diluar postingan jualan atau dagangan ada baiknya jika diselingi dengan postingan-postingan yang berunsur positif seperti motivasi, humor ataupun sekedar salam selamat pagi misalnya. Hindari postingan negatif seperti hoax, permasalahan keluarga/rumah tangga, curhat, ataupun nyinyir/nyindir terutama jika yang dimaksud adalah calon customer misalnya “Mbak ini tanya terus beli juga ngga?” atau “Beli cuma 2 minta free ongkir.”, dan lain lain.
  4. Luwes dan Friendly.
    Gunakan bahasa yang luwes agar lebih dekat dengan calon customer dan tidak kaku dalam menjawab komen ataupun dalam berinteraksi baik itu di postingan dagangan maupun postingan yang lain. Selingi dengan sedikit komen yang bernada canda atau humor agar lebih akrab karena tidak semua yang bisa membaca postingan atau komentar anda merupakan orang yang mengenal anda.
  5. Sabar dan Telaten.
    Usahakan jawab semua komen dan pertanyaan dengan segera karena tidak sedikit customer yang tidak sabaran dan ingin respon yang cepat, terutama jika ada komplain ataupun kiriman produk yang terhambat. Jangan memberi kesan terlalu defensive atau membela diri cukup dengarkan dengan sabar dan jelaskan dengan telaten serta tidak lupa diikuti permohonan maaf agar customer merasa dianggap dan dihargai. Hindari menjawab dengan nada ketus apalagi update status atau posting sesuatu yang berhubungan dengan komplain customer.
  6. Spamming dan Flooding.
    Dua hal ini sangat penting untuk dihindari atau jika perlu jangan dilakukan sama sekali. Spamming jualan atau produk kita melalui private message atau broadcast message sangat mengganggu minimaliskan untuk spamming terutama jika menggunakan aplikasi chat. Sedangkan untuk sosial media jangan flooding atau membanjiri timeline teman-teman anda dengan postingan jualan anda. Dua itu sangat mengganggu penggunanya entah itu aplikasi chat maupun sosial media.

Diatas merupakan beberapa hal yang harus diperhatian oleh penjual online terutama yang menggunakan sosial media sebagai media marketingnya. Jika memang sulit karena terkadang sebagai pengguna aktif sosial media juga ingin menulis uneg-uneg ataupun kekesalan melalui status atau postingan di sosial media. Apabila demikian hendaknya gunakan atau buat satu akun tersendiri yang mengkhususkan untuk berjualan karena customer anda bukan berarti teman anda yang benar-benar mengerti anda. Bisa jadi mereka hanya pengguna sosial media yang kebetulan suka dan cocok dengan produk yang anda jual. Tunjukkan image anda sebagai pribadi yang baik, karena pribadi yang baik merupakan cerminan dari marketing dan produk yang baik.

source pics: google

 

Bunuh Diri Secara Live Bikin Heboh Pengguna Sosial Media!

suicide

Kemarin tanggal 17 Maret 2017 sempat terjadi kehebohan di sosial media, facebook tepatnya. Seorang pria yang kemudia diketahui bernama Pahinggar Indrawan atau yang biasa dipanggil Indra. Tindakan bunuh diri yang dilatar belakangi masalah rumah tangga antara Indra dan Istrinya ini sontak membuat geger pengguna internet atau netizen di Indonesia. Pasalnya Indra merekam aksinya ini secara live melalui akun sosial media miliknya.

Tak membutuhkan waktu yang lama beberapa jam setelah aksi nekat Indra tersebut video live streamingnya itu langsung menjadi viral dan sempat ditonton oleh jutaan orang. Pihak facebook yang mengetahui perihal video itu langsung menghapus video Indra yang berisi aksi bunuh diri dengan cara gantung diri itu. Walaupun video aksi nekat Indra sudah dihapus oleh facebook namun netizen masih ramai mengunjingi halaman facebook milik Indra.

Selain facebook pihak kominfo juga menganjurkan kepada masyarakat dan netizen khususnya agar tidak mengunggah serta menyebarkan video tersebut. Memang dari segi moral dan etika video tersebut tidak pantas untuk disaksikan. Selain tidak mendidik serta akan menjadi contoh buruk bagi generasi muda. Dari sisi agama pun saya rasa tidak ada satu agama yang membenarkan tindakan bunuh diri. Di halaman facebook milik Indra pun sudah berubah yaitu ada kata “Remembering”. Mungkin ini cara facebook menanggapi dan membantu teman-teman Indra untuk mengingat kenangan-kenangan tentang Indra semasa hidupnya.

Komen atau sikap kurang simpatik ditunjukkan oleh beberapa pihak yang “KURANG AKUA” atau yang malas browsing atau sekedar mendengar berita. Mereka mengatakan bahwa aksi Indra tersebut adalah hoax atau hanya sekedar mencari simpati dari pengguna sosial media. Jujur saya miris membaca komen-komen yang saya anggap bodoh tersebut. Ada baiknya sebelum berkomentar atau melakukan sesuatu hendaknya melakukan kroscek baik itu itu informasi maupun berita. Hoax memang sudah bertebaran tapi alangkah bijaknya bila diri kita sendiri yang menjadi filter dengan selalu melakukan kroscek informasi.

Secara pribadi saya menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Indra dan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga terutama anak almarhum yang ditinggalkan. Memang aksi atau tindakan bunuh diri ini tidak dibenarkan oleh Agama, tapi setidaknya orang yang beragama atau mengaku memiliki agama sebaiknya mendoakan yang terbaik dan semoga semua amal dan ibadahnya selama hidup dapat diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin YRA.

AWAS PEDOFIL BERKUMPUL di MEDIA SOSIAL!

Marah, jijik, geram, miris, sedih! Begitulah ekspresi saya begitu mendengar berita yang sedang viral beberapa hari ini. Polisi berhasil membongkar komunitas pedofil di salah satu media sosial (medsos). Tidak tanggung-tanggung jumlah member atau anggota grup tersebut mencapai 7 ribu lebih. Sebenarnya saya sangat menyayangkan karena hanya sekitar 10 orang saja yang ditangkap dan diamankan oleh pihak kepolisian, mengingat member yang begitu banyak harusnya polisi dapat mengungkap lebih banyak lagi pelaku pedofil.

Well, pada awal konsepnya blog ini seharusnya menulis tentang opini dari sudut pandang orang ketiga atau setidaknya menulis opini dari kacamata kedua belah pihak. Tapi untuk kali ini seriously saya ogah. Karena saya termasuk yang ANTI dan dengan TEGAS MENOLAK keberadan pedofil di dalam atau di tengah-tengah masyarakat kita. Walaupun belum menikah dan mempunyai anak, tapi saya memiliki banyak keponakan yang sangat saya sayangi baik itu dari saudara atau sahabat. Sungguh tak sanggup membayangkan apabila salah satu dari mereka menjadi korban.

Dalam komunitas pedofil di salah satu jejaring sosial, mereka berbagi info dan tips bagaimana mencari, menghasut dan membujuk para korban. Bahkan tidak segan men-share atau membagikan foto maupun video para korban dari perilaku keji mereka. Ya keji karena mereka menggunakan berbagai macam tipu daya dan bujuk rayu agar korban yang masih anak-anak tersebut tertarik untuk mendekat atau mendatangi mereka. Salah satu cara yang mereka anggap ampuh adalah memelihara binatang seperti kelinci, kucing, ikan yang dianggap bisa menarik perhatian anak kecil.

pedo

Dan ada pula yang memberikan saran agar harus bisa sulap atau melucu sehingga korban atau calon korban tertarik dengan sulap atau guyonan mereka. Begitu sudah dekat atau akrab mereka akan mulai membujuk korban agar melakukan apa yang mereka inginkan. Karena korban dari kasus pedofil ini merupakan anak-anak jadi mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan atas permintaan pelaku tersebut salah dan tidak baik untuk dilakukan.

Melihat atau menanggapi berita mengenai pedofil ini menyulut emosi masyarakat khususnya para orang tua. Mereka menganggap dengan adanya komunitas pedofil tersebut cukup meresahkan dan berbahaya terutama setelah membaca cuplikan beberapa postingan di group tersebut yang sempat ter-capture dan menjadi viral di media sosial. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menuntut agar pelaku pedofil ini dihukum seberat-beratnya dan hukuman mati jika perlu. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang sahabah saya melalu salah satu akunnya di sosial media, beliau meminta agar Presiden Republik Indonesia Bapak  Joko Widodo segera memberikan perhatian agar para pelaku pedofil dapat diungkap dan diberikan hukuman semaksimal mungkin.

pedofil ce atha

Ada yang membuat saya heran adalah kenapa pada saat penangkapan pelaku pedofil ini identitas pelaku disembunyikan dan wajah mereka ditutupi oleh pihak kepolisian. Padahal seharusnya pihak kepolisian membuka dengan jelas mengenai identitas pelaku agar masyarakat bisa dan dapat lebih berhati-hati kelak. Second chance atau kesempatan kedua bagi saya tidak layak bagi para pelaku pedofil. Karena mereka telah merusak masa depan dan dapat mempengaruhi kejiwaan mereka kelak ketika sudah dewasa.

Saya merasa HAM juga tidak sepatutnya atau seharusnya membela mereka para pelaku pedofil tersebut. Pihak HAM juga harus melihak hak dari para korban yang sudah dirampas dengan keji. Melalui tulisan dan opini saya ini saya memohon kepada pihak berwajib yaitu Kepolisian Republik Indonesia dapat mengungkap kasus pedofilia dan menagkap para pelakunya sesegera mungkin.

 

pics source : google

Sleepless Elite… Are You?

Sebagai seorang onliner atau gamer khususnya tidur dalam kurun waktu yang singkat bukanlah hal yang aneh. Terlebih sahabat-sahabat online saya di game kebanyakan berasal dari daratan bumi eropa dan amerika. Agar dapat meluangkan waktu main bersama ada kalanya harus mengorbankan waktu untuk istirahat. Perbedaan waktu ini juga terkadang memaksa pihak developer ataupun publisher dari game menyediakan server berdasarkan lokasi atau pembagian zona waktu di dunia. Memang tidak semua game mengadopsi atau menambah server berdasarkan zona waktu, tergantung dari jumlah player dari zona waktu tertentu.

Bagaimana bila game tidak menyediakan server dengan zona waktu yang sesuai dengan pemain? Ya berarti mau tidak mau pemain harus menyesuaikan dengan zona waktu server. Hal ini memang agak merepotkan player saat event atau pada game yang mengadopsi real time battle dimana para player diharuskan online pada saat-saat tertentu untuk berkompetisi atau memperebutkan hadiah dengan para pemain lainnya. Oleh karena itu rata-rata atau kebanyakan gamer merupakan sleepless elite. Selain perbedaan zona waktu tapi juga meluangkan waktu yang lebih untuk game yang mereka mainkan.

Tidak melulu yang sleepless elite adalah gamer, bahkan menurut penelitian sekitar 1-3% jumlah populasi dunia adalah sleepless elite. Apa itu sleepless elite? Sleepless elite adalah orang-orang yang memerlukan waktu tidur lebih singkat dibandingkan yang lain dan mereka masih bisa dan dapat berkerja layaknya orang lain dengan jam tidur yang lebih panjang atau lama. Tidur larut malam dan bangun pagi sebelum fajar menyongsong.

about-2-of-the-population-are-considered-sleepless-elite-which-3039864

Dalam dunia kesehatan disebutkan bahwa waktu tidur yang baik untuk tubuh antara 6-9 jam per hari. Namun bukan berarti tidur dibawah atau kurang dari 6-9 jam tidak baik tetapi tidak dianjurkan. Untuk kaum atau orang-orang yang termasuk dalam sleepless elite rata-tata tidur 4-5 jam sehari dan hal tersebut tidak berpengaruh terhadap kesehatan maupun aktivitas mereka. Sleepless elite ini bisa disebabkan oleh gen keturunan atau yang bermutasi. Selain gen sleepless elite ini bisa juga disebabkan oleh kebiasaan dan pola hidup.

Tidak sedikit dari sleepless elite ini merupakan figur atau sosok penting di dunia. Beberapa contohnya adalah mantan orang nomor satu di Amerika Seriat yaitu Presiden Barrack Obama, serta salah satu nama besar dalam sejarah yaitu Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte. Bahkan Bonaparte pernah menegaskan bahwa tidur hanya untuk orang lemah. Semakin lama ia tidur makan semakin lemah orang itu.

Disamping Presiden Obama dan Napoleon Bonaparte ada beberapa figur sukses lainnya yang termasuk sebagai sleepless elite antara lain Presidn Donald Trump yang baru terpilih menggantikan Barrack Obama, Jack Dorsey CEO Twitter, Marissa Mayer CEO Yahoo, dan masih banyak nama lainnya. Kebanyakan diantara orang-orang sukses merupakan sleepless elite atau orang yang waktu tidurnya lebih singkat dibandingkan orang lain pada umumnya.

Dari sisi kesehatan para ahli dan pakar kesehatan setuju bahwa istirahat yang cukup dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan jangka panjang. Disisi lain pandangan dari pada figur atau sosok yang sudah sukses secara tidak langsung mengatakan bahwa tidur berlebihan dapat mengurangi produktivitas dalam bekerja.

Apakah apa pilihan anda? Kurangi waktu tidur agar sukses atau tidur cukup agar sehat?

source pics: google