Online Vs Konvensional, Siapa Salah?

Ribuan-Sopir-Lokal-Ancam-Turunkan-Baliho-Angkutan-Online_836968.jpg

Beberapa hari lalu sempat saya bahas demo sopir angkot di kota Malang, Jawa Timur. Memang bukan postingan terkait persoalan demo yang dilakukan tapi lebih mengarah ke rasa kagum dan bangga tentang solidaritas dan kepedulian masyarakat kota Malang dalam mengatasi masalah, khususnya masalah angkot yang melakukan mogok massal sehingga para penumpang pengguna angkot terlantar. Dimana para pelanggan atau pengguna angkot mayoritas adalah pelajar dan orang tua atau lansia.

Di postingan artikel kali ini saya lebih menyorot ke permasalahan angkutan online vs konvensional. Akan saya lihat tetap pada konteks sebagai pemerhati bukan memihak dari salah satu kubu. Semoga dari awal hingga akhir artikel ini saya tetap ditengah dan pembaca pun beranggapan demikan dan juga bukan bermaksud untuk menggiring opini pembaca. Mau condong kemanapun itu merupakan hak masing-masing dalam menyikapi masalah dan saya menghargai itu.

Sedikit flash back kebeberapa bulan lalu, saya sempat diskusi dengan seorang sahabat saya yang kebetulan memiliki usaha rental mobil. Dan kebetulan rental mobil usahanya ini baru saja ditawari untuk menjadi mitra oleh salah satu perusahaan angkutan berbasis online. Selanjutnya kita sebut saja PT. U. Menariknya adalah PT. U ini belajar dari pengalamannya ketika meluncurkan bisnis angkutan berbasis online ini ketika di Jakarta, sehingga ketika akan melakukan ekspansi ke Surabaya sudah melakukan antisipasi.

Salah satunya dari sisi perijinan, dibandingkan ketika memulai bisnis ini di Jakarta PT. U melakukan atau membuka kemitraan dengan perorangan, namun seiring dengan perjalanan waktu serta lika-liku hambatan yang dihadapi terutama dari pihak atau dinas terkait yang mulai memberlakukan aturan khusus untuk angkutan berbasis online dan salah satunya adalah PT. U ini. Berbekal pengalaman itu PT. U ketika melakukan ekspansi ke kota Surabaya sudah bukan lagi mencari mitra perorangan melainkan pemilik usaha rental mobil dimana ijin untuk operasi maupun kelengkapan surat ijin tentu sudah dikantongi oleh para pemilik usaha rental mobil (yang resmi dan terdaftar).

Sehingga ketika ada kendala terutama perijinan, perawatan kendaraan, dan lain-lain PT. U sudah tidak lagi pusing karena ijin mengikuti atau pengurusannya menjadi kewajiban pihak pemilik rental mobil. Praktis usaha bisnis angkutan berbasis online ini tidak membebani perusahaan baik secara perijinan maupun perawatan. Sebenarnya jika diamati tentang beban perawatan ini sama saja antara mitra perorangan ataupun yang sudah berbadan hukum seperti rental mobil hanya ketika harus dihadapkan dengan masalah perijinan mitra perotangan ini agak mengalami kesulitan.

Penolakan terhadap usaha atau bisnis angkutan berbasis online oleh angkutan konvensional ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi sampai ke bumi Eropa dimana tingkat pendidikan maupun kesejahteraan jauh diatas masyarakat Indonesia. Perlahan tetapi pasti angkutan berbasis online mulai menggerus keberadaan angkutan konvensional yang sudah ada dan semakin menggurita memperluas ekspansinya dari kota-kota besar sampai ke kota-kota kecil.

Ketika beberapa bulan lalu terjadi penolakan oleh sopir taksi konvensional tetapi permasalahan tersebut sudah selesai dan terjadi penyesuaian oleh pihak perusahaan taksi konvensional agar mampu dan dapat bersaing dengan taksi online atau angkutan berbasis online. Dimana harga atau tarif dari angkutan online ini memang jauh dari harga standard yang ditetapkan oleh perusahaan taksi konvensional. Kini taksi konvensional juga mulai merambah atau menggunakan aplikasi online serta menurunkan tarif guna menarik kembali pelanggan atau konsumen mereka yang sempat beralih ke angkutan berbasis online.

Kini penolakan kembali terjadi bukan oleh sopir taksi konvensional tetapi oleh sopir angkutan kota atau angkot. Tidak main-main penolakan kali ini lebih anarkis dan sampai menimbulkan korban jiwa. Di kota Tangeran, Banten beberapa hari yang lalu terjadi penabrakan terhadap salah seorang pengemudi ojek online oleh sopir angkot. Hal ini berbuntut panjang dimana rekan-rekan atau perkumpulan pengemudi ojek online ini melakukan aksi balasan. Tidak hanya berasal dari kota Tangerang saja namun para pengemudi itu berasal dari kota sekitar termasuk dari Jakarta.

Aksi dilakukan mulai dari sweeping angkot sampai aksi main hakim sendiri dimana angkot beserta sopirnya dicegat dan diserang oleh para pengemudi ojek online ini. Penyerangan ini terjadi di beberapa titik kota Tangerang dan sempat membuat warga kota Tangerang terganggu aktivitasnya. Selain kota Tangerang penolakan juga terjadi hampir bersamaan di beberapa kota lainnya di Indonesia seperti Malang dan Bandung. Di Bandung sempat terjadi kejadian dimana mobil pribadi diserang oleh sekelompok pengemudi angkot. Video rekaman tersebut sempat viral dan memperoleh tanggapan dari masyarakat pengguna sosial media. Netizen mengkritik atau mengkutuk kejadian tersebut dan menganggap kejadian tersebut tidak manusiawi, hal ini dikarenakan pada saat penyerangan masih ada orang dan balita di dalam mobil tersebut.

Banyak kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan angkutan konvensional dan angkutan berbasis online ini mendapat perhatian khusus dari masyarakat termasuk saya. Tidak sepenuhnya menyalahkan sopir angkot tapi saya menyayangkan kejadian-kejadian yang bersifat anarkis. Jika ditelisik lebih dalam dari sisi pengemudi angkot mungkin bisa dipahami kekesalan yang dialami sopir angkot. Dimana mereka harus mengejar setoran tapi disisi lain penumpang banyak yang beralih menggunakan angkutan berbasis online.

Tak bisa dipungkiri tarif angkutan berbasis online ini bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan angkutan konvensional. Ditunjang dengan kelebihan dapat menjemput calon penumpang serta mengantarkannya tepat pada lokasi atau alamat yang dituju. Bila dibandingkan dengan angkutan konvensional dalam hal ini angkot dimana para penumpang diharuskan untuk berada di jalur atau trayek yang dilalui oleh angkot dan tidak sedikit yang harus oper atau pindah angkot lebih dari satu kali untuk menuju lokasi yang dikehendaki.

Berbeda dengan angkutan konvensional, angkutan berbasis online ini tidak dipatok oleh setoran yang harus dibayarkan tiap hari dan jika kurang harus menutupnya dari kocek pribadi. Angkutan berbasis online ini menganut sistem bagi hasil, jika ingin hasil yang lebih besar maka pengemudi harus rajin-rajin mencari penumpang atau melakukan layanan lain yang disediakan oleh pihak perusahaan. Ditambah lagi murahnya tarif yang dikenakan oleh perusahaan kepada penumpang jauh lebih murah ketimbang angkutan konvensional. Dimana perusahaan angkutan berbasis online ini memiliki kelebihan atau keuntungan karena unit atau armada yang dimiliki bukan merupakan aset perusahaan sehingga beban perawatan dan operasionalnya seratus persen menjadi tanggung jawab mitra.

taksi

Jadi jika harus menyalahkan akar atau awal mula ini salah siapa? Ini kesalahan sistem dan perijinan dari mode transportasi yang ada. Pihak pemerintah tidak hanya Indonesia pada saat awal terbentuk sistem angkutan berbasis onine ini gagal mengantisipasi dengan landassan hukum dan perijinan. Pada saat dimana taksi konvensional jumlah unit atau armada mereka dibatasi, hal yang terjadi justru kebalikannya jumlah armada dari angkutan berbasis online ini tanpa batas. Asal ada mitra yang bersedia bekerjasama dan memenuhi persyaratan dan standard yang ditentukan maka jumlah armada angkutan yang berbasis online ini dapat bertambah dengan mudahnya.

Dari perijinan yang lain jika angkutan konvensional diharuskan memiliki ijin operasi dan menggunakan plat nomor kendaraan khusus yang berwarna dasar kuning dengan tulisan warna hitam maka hal tersebut tidak berlaku untuk angkutan berbasis online. Mereka dengan bebas menggunakan plat nomor hitam atau kendaraan milik pribadi untuk mengangkut penumpang umum. Dari segi biaya juga begitu jika perusahaan angkutan konvensional diwajibkan memiliki tempat yang dapat menampung armada ketika tidak beroprasi juga diwajibkan memenuhi standard kelayakan kendaraan bermotor untuk kendaraan umum atau berpenumpang. Belum lagi ditambah perawatan armada dan lain-lain.

Soal beban operasional yang harus ditanggung oleh angkutan konvensional ini jauh berbanding terbalik dengan angkutan berbasis online. Dimana perusahaan online ini tidak menanggung biaya perawatan, apalagi memiliki tempat untuk menampung unit atau armada karena semua adalah milik pribadi ataupun rental mobil mitra dari perusahaan. Banyaknya batasan dari pemerintah serta tekanan beban operasional yang harus ditanggung oleh perusahaan angkutan konvensional inilah membuat sopir dari angkutan konvensional merasa gerah maupun iri dengan perlakuan yang diterima angkutan berbasis online.

Tidak fair rasanya jika hanya mengkritisi dan menyalahkan pihak pemerintah atau dinas terkait perihal masalah online dan konvensional ini. Jika diperbolehkan memberikan solusi dan sukur-sukur jika bisa terbaca serta diterima dengan baik oleh pemerintah. Alangkah baiknya apabila pemerintah mulai membatasi jumlah unit atau armada angkutan berbasis online. Ditunjang juga dengan perawatan dan pemberian penyuluhan mengenai pelayanan serta pentingnya keselamatan dan kenyamanan dalam pengemudi terutama oleh angkutan kota yang masih dilindungi oleh perda dan jalur beroprasinya diatur oleh dinas perhubungan. Selebihnya bisa ditambahkan oleh orang-orang pintar dari dinas perhubungan terutama dalam sistem, perijinan serta tidak lupa juga pembatasan jumlah kendaraan bermotor dimana makin lama jumlahnya semakin tidak terkontrol sehingga kemacetan terjadi dimana-mana.

Dan keberadaan angkutan berbasis online ini tidak dapat serta merta dihilangkan begitu saja. Angkutan berbasis online ini dapat tumbuh dan berkembang dengan demikian pesatnya karena mampu beradaptasi dengan teknologi serta berhasil membaca dan menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi umum. Untuk beberapa waktu yang akan datang layanan angkutan berbasis online ini akan tetap ada dan keberadaannya dibutuhkan oleh masyarakat. Apabila pemerintah tidak berhasil mengatur sebuah sistem yang adil serta pihak dari penyedia angkutan konvensional tidak mampu memberikan layanan yang bisa berkualitas dan bersaing, niscaya perlahan tetapi pasti angkutan konvensional akan mati tergerus oleh derasnya perkembangnya teknologi.

source pic: google

Advertisements

NGALAM MBOISLOP #ngalammboislop

Beberapa hari terakhi di kota Malang terasa berbeda. Aksi mogok massal seluruh angkotan kota (angkot) di Malang sontak membuat lumpuh sebagian besar aktivitas masyrakat. Dampak yang paling dirugikannya atas aksi mogok masal ini tentu pengguna angkot diantaranya pelajar, lansia dan para karyawan.

Aksi kurang simpatik semakin diperlihatkan oleh pendemo dengan bebagai cara agar tuntutan mereka dipenuhi oleh pihak pemerintah. Cara-cara yang dilakukan antara lain berjalan beriringan dengan kecepatan yang sangat rendah sehingga terjadi penumpukan kendaraan yang hendak melintas di belakangnya. Dan beberapa angkot lainnya terlihat menutup akses jalan dengan memarkir kendaraan atau angkot mereka di beberapa titik kota Malang.

angkot
Aksi para sopir angkot di depan Bali Kota Malang.

Hal ini membuat warga atau masyarakat kota Malang merasa gerah dengan ulah para sopir angkot dalam melakukan aksinya. Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) yang melihat aksi demo sopir angkot ini semakin berlarut-larut maka mereka tergerak untuk menggalang aksi untuk melakukan layanan mengantar (jemput) secara ruka rela untuk para pelajar dan pengguna angkot yang terlantar akibat aksi demo tersebut.

Ide atau gagasan ini disambut baik oleh seluruh masyarakat Malang. Respon positif masyarakat ini dapat dilihat dari jumlah relawan yang terus bertambah. Angka relawan sudah ratusan atau bahkan ribuan hingga saat artikel ini ditulis. Mulai dari motor, mobil hingga minibus disiapkan untuk mengangkut para penumpang angkot yang terlantar. Para relawan dari komunitas ASLI Malang lebih memprioritaskan pelajar terutama pada saat jam masuk sekolah dan pulang sekolah. Namun tidak sedikit pula mereka membantu masyarakat lainnya yang membutuhkan bantuan.

Walaupun tidak memiliki ikatan apapun dengan kota Malang, tapi saya memiliki beberapa sahabat dan kerabat yang tinggal di Malang. Membaca postingan dan status mereka di sosial media yang mengeluhkan aksi sopir angkot dan kemudian beberapa share tentang aksi antar jemput secara suka rela oleh teman-teman relawan. Jujur saya juga merasa prihatin dengan kondisi di Malang sekaligus bangga terhadap apa yang telah sahabat-sahabat relawan lakukan untuk membantu sesama.

Sebenarnya aksi perlawanan terhadap angkutan online tidak hanya terjadi di kota Malang namun juga terjadi di beberapa kota di Indonesia dan Dunia. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan aksi sweeping dan diikuti dengan bentrokan antara pengemudi angkutan konvensional dengan pengemudi angkutan online.Terlepas apapun hasil tuntutan dari para sopir angkot tersebut hikmah yang dapat dipetik dari kejadian ini adalah rasa kepedulian masyarakat Indonesia masih tinggi. Dan anggapan bahwa masyarakat kita makin hari makin acuh tak acuh tidak benar adanya. Kota Malang di Jawa Timur ini menjadi bukti dan contoh nyata dari kepedulian masyrakat terhadap keadaan disekitarnya.

Hingga artikel ini diposting relawan di kota Malang terus melakukan aksinya. Semangat dan dukungan serta doa dari masyrakat kota Malang terhadap para relawan pun juga terus mengalir. Beberapa diantaranya mengirimkan makanan dan minuman ke posko-posko relawan. Dan ada pula yang rumah makan yang menggratiskan relawan untuk makan dan minum disana. Salut dan bangga terhadap solidaritas sahabat-sahabat di kota Malang.

asli malang
Salah satu postingan relawan angkutan gratis di Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang)

Ngalam Mboislop.. Salam Satu Jiwa!

 

source photo: Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang)