Mottainai… ‘What a Waste’ !!!

tumblr_nobdumjtUN1su85gro1_r2_500.gif

Pada tulisan atau artikel saya sebelumnya sempat saya singgung tentang mottainai dan kebetulan ada beberapa sahabat yang bertanya apa itu mottainai? Sebenarnya mottainai ini sudah ada dan banyak jika kita search atau browsing menggunakan search engine. Selain mottanai, akan saya sedikit singgung beberapa etika atau kebiasaan di Jepang yang berhubungan dengan makanan dan kuliner. Mottainai adalah perasaan atau ungkapan penyesalan masyarakat jepang karena telah menyia-nyiakan sesuatu. Dalam hal menyia-nyiakan ini erat kaitannya dengan waktu dan makanan. Jadi jangan heran jika masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan makanan.

Mottainai dari sisi makanan ini berawal dari kesadaran masyarakat Jepang sendiri dimana Jepang tidak memiliki banyak lahan untuk pertanian. Karena hasil pertanian yang terbatas masyarakat Jepang benar-benar memanfaatkan dan mengkonsumsi makanan terutama hasil pertanian tanpa pernah menyisakan sedikitpun. Selain itu mereka (masyarakat Jepang) selalu menghabiskan makanan yang disajikan pada mereka sebagai bentuk salah satu respect atau menghargai jerih payah petani serta chef  yang sudah dengan susah payah menanam dan menyiapkan makanan dengan sepenuuh hati sehingga mereka dapat menikmati sajian atau makanan tersebut.

Didukung oleh sajian kuliner tradisional Jepang yang disebut Washoku dimana menu utama yang disajikan adalah nasi dan miso soup dan didampingi dengan menu-menu lain seperti seafood, sayur baik berupa acar maupun dimasak dengan kuah semacam sup, dan menu tambahan lain yang semuanya disajikan dalam porsi kecil dan cukup untuk satu orang. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang disajikan tidak ada yang disisakan dan terbuang dengan sia-sia. Jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita.

washoku

Di dalam masyarakat Jepang sendiri tidak menghabiskan makanan yang disajikan dianggap tidak sopan dan tidak memiliki rasa hormat terhadap makanan dan orang yang telah menyajikan makanan tersebut. Oleh karena itu sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah ditemui orang Jepang yang menyisakan makanan. Apabila menu atau makanan disajikan dalam porsi besar tidak jarang mereka memesan makanan untuk dimakan beramai-ramai dengan teman atau keluarga yang mungkin hal ini agak sedikit aneh bagi orang lain terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika.

Selain makanan, mottainai banyak digunakan sebagai penyesalan karena membuang-buang waktu dengan percuma. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang terkenal dengan ketepatan waktu. Menghargai waktu di dalam masyarakat Jepang tercermin dari ketepatan waktu kedatangan dan keberangkatan kereta dan bus yang menjadi moda transportasi umum masyarakat Jepang dalam menjalani rutinitas mereka sehari-hari. Bila dibandingkan dengan Indonesia keterlambatan atau jam karet sudah menjadi budaya dan sepertinya sampai mendarah daging terutama dalam dunia transportasi.

Seandainya masyarakat Indonesia bisa sedikit lebih menghargai dan memiliki perasaan penyesalan karena telah menyia-nyiakan sesuatu mungkin cara dan pola berpikir masyarakat Indonesia akan menjadi lebih baik dan lebih hemat. Dimulai dari yang remeh dan simpel seperti waktu dan makanan kemudian bisa diaplikasikan dalam penggunaan listrik, air maupun bahan bakar. Mari kita mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri… DON’T WASTE IT!!!

dont waste.jpg

Not a Picky Eater!

Masih terkait dengan mottainai diatas saya sebutkan jika ada bagian atau makanan yang tidak disukai bisa ditawarkan kepada teman atau keluarga yang berada satu meja dengan kita. Di Jepang memilih-milih makanan dianggap tidak sopan dan cenderung kasar. Orang Jepang sendiri umumnya tidak memiliki kecenderungan memilih-milih makanan. Sangat berbeda dan berlawanan sekali dengan masyarakat Indonesia, dimana sering kita temui pelanggan memesan makanan dengan permintaan khusus tanpa ini itu. Oleh karena itu saat ini banyak ditemui restoran atau rumah makan di Jepang yang menawarkan atau menanyakan makanan apa yang tidak disukai oleh pelanggan khususnya orang asing agar tidak ada makanan yang tersisa.

Slurping

Slurping atau menghisap mie hingga bersuara sangat normal terjadi di Jepang. Semakin bersuara semakin baik. Mengeluarkan suara saat makan dianggap wajar dan sebagai bentuk penghormatan kepada chef atau koki. Suara yang dikeluarkan saat makan menggambarkan bahwa makanan yang disajikan enak dan pelanggan terlihat menikmati makanannya. Oleh karena itu di Jepang semakin bersuara pada saat makan semakin baik.

Mengangkat Piring atau Mangkuk.

Bagi sebagian orang mengangkat piring atau mangkuk pada saat makan merupakan tindakan yang tidak sopan. Namun kebiasaan orang Jepang makan dengan makan mengangkat piring atau mangkuk adalah hal yang normal bahkan meminum sup langsung dari mangkuk sudah biasa dilakukan. Jadi jangan terlalu berharap akan tersedia sendok khusus untuk sup dalam penyajian washoku. Mengangkat mangkok dan kemudian ‘menyeruput’ kuah ramen sudah bukan hal yang aneh terjadi di kedai-kedai ramen di Jepang.

 

source pic: google

Advertisements

Sosial Media, Bakul Online dan Etika Komunikasi Marketing.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebutuhan akan teknologi dan informasi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Berbagai macam teknologi diciptakan dan inovasi terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Bukan hanya dalam bentuk gadget atau alat saja tetapi teknologi dan informasi juga dikembangkan, yang awal mulanya disepelekan orang namun saat ini sekarang mulai dilirik dan berhasil menjadi trend yang berkembang dengan sangat pesat. Siapa yang pada tahun 2017 ini tidak menggunakan sosial media? Sosial media ini digunakan oleh berbagai kalangan, usia, gender, dan profesi. Indonesia sendiri pengguna sosial media sudah mencapai puluhan jutaan atau bahkan ratus juga orang dan melalui sosial media pula peluang bisnis bisa diperoleh dan dikembangkan.

Fenomena sosial media yang menjadi lahan basah bagi para pelaku bisnis atau calon pelaku bisnis ini memang sangat menggiurkan. Potensi market atau pasar yang begitu menjanjikan membuat beberapa kalangan berlomba-lomba untuk menggunakan sosial media sebagai target atau sasaran dari kegiatan marketing. Beberapa contoh nyata marketing dalam menjaring para pengguna internet atau sosial media sebagai sasaran mereka adalah tim sukses calon pemimpin politik ataupun daerah mereka menbidik pengguna sosial media melalui berita-berita baik positif ataupun negatif untuk menjual calon yang mereka usung. Selain dari sisi politik ada juga online shop yaitu toko yang menjual dagangan tanpa toko secara fisik. Perkembangan online shop yang kian menjamur juga tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan transportasi online yang juga ramai sampai saat ini.

Jika beberapa saat lalu sempat saya singgung mengenai transportasi online yang sempat ramai dan menjadi perhatian masyarakat pada saat itu. Kali ini saya ingin sedikit membahas mengenai Online Shop. Online shop memang tersedia dalam layanan tersendiri atau web khusus, akan tetapi tidak sedikit pula para penjual atau bakul online tersebut menggunakan sosial media dan menyasar penggunanya sebagai sasaran marketing mereka.

Setelah malang melintang di dunia persilatan sosial media sebagai pengguna dan pengamat. Sebenarnya cukup banyak para penjual atau bakul online yang kurang bijak menurut saya dalam menggunakan sosial media sebagai sarana marketing ataupun dalam mencari target potensial buyer. Tidak dapat dipungkiri bahwa didalam bersosial media kita akan menemui berbagai macam karakter orang beserta postingannya. Ada yang suka posting sesuatu yang sedih, marah-marah, galau, curhat, nyinyir, cari perhatian, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang yang sering berhubungan dengan orang lain dalam pekerjaannya saya mencoba mengkaitkan antara sosial media, penjual online dan etika dalam komunikasi marketing. Sungguh disayangkan apabila sahabat saya yang berprofesi sebagai bakul online baik profesi utama ataupun sampingan. Sedikit banyak, etika dalam komunikasi marketing ini dapat mempengaruhi penjualan juga sisi psikologis dari customer maupun calon customer.

social-media-marketing-mumbai-digillence-rolson

Beberapa poin dalam etika marketing menurut harus diperhatikan oleh penjual atau bakul online dalam sosial media khususnya:

  1. Kejujuran.
    Foto atau gambar dari produk yang kita upload hendaknya merupakan hasil jepretan pribadi atau setidaknya sesuai dengan produk yang kita jual bukan merupakan hasil googling atau hasil foto pihak lain yang diambil tanpa ijin terlebih dahulu.
  2. Keterbukaan.
    Sering kali kita melihat postingan jualan yang tidak mencantumkan harga, dan ketika ditanya tentang harga jawabannya melalui PM (Private Message). Hal ini bisa menimbulkan beragam persepsi dari calon customer salah satunya harga berbeda yang diberikan pada pembeli yang berbeda terhadap barang yang sama.
  3. Positif.
    Diluar postingan jualan atau dagangan ada baiknya jika diselingi dengan postingan-postingan yang berunsur positif seperti motivasi, humor ataupun sekedar salam selamat pagi misalnya. Hindari postingan negatif seperti hoax, permasalahan keluarga/rumah tangga, curhat, ataupun nyinyir/nyindir terutama jika yang dimaksud adalah calon customer misalnya “Mbak ini tanya terus beli juga ngga?” atau “Beli cuma 2 minta free ongkir.”, dan lain lain.
  4. Luwes dan Friendly.
    Gunakan bahasa yang luwes agar lebih dekat dengan calon customer dan tidak kaku dalam menjawab komen ataupun dalam berinteraksi baik itu di postingan dagangan maupun postingan yang lain. Selingi dengan sedikit komen yang bernada canda atau humor agar lebih akrab karena tidak semua yang bisa membaca postingan atau komentar anda merupakan orang yang mengenal anda.
  5. Sabar dan Telaten.
    Usahakan jawab semua komen dan pertanyaan dengan segera karena tidak sedikit customer yang tidak sabaran dan ingin respon yang cepat, terutama jika ada komplain ataupun kiriman produk yang terhambat. Jangan memberi kesan terlalu defensive atau membela diri cukup dengarkan dengan sabar dan jelaskan dengan telaten serta tidak lupa diikuti permohonan maaf agar customer merasa dianggap dan dihargai. Hindari menjawab dengan nada ketus apalagi update status atau posting sesuatu yang berhubungan dengan komplain customer.
  6. Spamming dan Flooding.
    Dua hal ini sangat penting untuk dihindari atau jika perlu jangan dilakukan sama sekali. Spamming jualan atau produk kita melalui private message atau broadcast message sangat mengganggu minimaliskan untuk spamming terutama jika menggunakan aplikasi chat. Sedangkan untuk sosial media jangan flooding atau membanjiri timeline teman-teman anda dengan postingan jualan anda. Dua itu sangat mengganggu penggunanya entah itu aplikasi chat maupun sosial media.

Diatas merupakan beberapa hal yang harus diperhatian oleh penjual online terutama yang menggunakan sosial media sebagai media marketingnya. Jika memang sulit karena terkadang sebagai pengguna aktif sosial media juga ingin menulis uneg-uneg ataupun kekesalan melalui status atau postingan di sosial media. Apabila demikian hendaknya gunakan atau buat satu akun tersendiri yang mengkhususkan untuk berjualan karena customer anda bukan berarti teman anda yang benar-benar mengerti anda. Bisa jadi mereka hanya pengguna sosial media yang kebetulan suka dan cocok dengan produk yang anda jual. Tunjukkan image anda sebagai pribadi yang baik, karena pribadi yang baik merupakan cerminan dari marketing dan produk yang baik.

source pics: google

 

Bunuh Diri Secara Live Bikin Heboh Pengguna Sosial Media!

suicide

Kemarin tanggal 17 Maret 2017 sempat terjadi kehebohan di sosial media, facebook tepatnya. Seorang pria yang kemudia diketahui bernama Pahinggar Indrawan atau yang biasa dipanggil Indra. Tindakan bunuh diri yang dilatar belakangi masalah rumah tangga antara Indra dan Istrinya ini sontak membuat geger pengguna internet atau netizen di Indonesia. Pasalnya Indra merekam aksinya ini secara live melalui akun sosial media miliknya.

Tak membutuhkan waktu yang lama beberapa jam setelah aksi nekat Indra tersebut video live streamingnya itu langsung menjadi viral dan sempat ditonton oleh jutaan orang. Pihak facebook yang mengetahui perihal video itu langsung menghapus video Indra yang berisi aksi bunuh diri dengan cara gantung diri itu. Walaupun video aksi nekat Indra sudah dihapus oleh facebook namun netizen masih ramai mengunjingi halaman facebook milik Indra.

Selain facebook pihak kominfo juga menganjurkan kepada masyarakat dan netizen khususnya agar tidak mengunggah serta menyebarkan video tersebut. Memang dari segi moral dan etika video tersebut tidak pantas untuk disaksikan. Selain tidak mendidik serta akan menjadi contoh buruk bagi generasi muda. Dari sisi agama pun saya rasa tidak ada satu agama yang membenarkan tindakan bunuh diri. Di halaman facebook milik Indra pun sudah berubah yaitu ada kata “Remembering”. Mungkin ini cara facebook menanggapi dan membantu teman-teman Indra untuk mengingat kenangan-kenangan tentang Indra semasa hidupnya.

Komen atau sikap kurang simpatik ditunjukkan oleh beberapa pihak yang “KURANG AKUA” atau yang malas browsing atau sekedar mendengar berita. Mereka mengatakan bahwa aksi Indra tersebut adalah hoax atau hanya sekedar mencari simpati dari pengguna sosial media. Jujur saya miris membaca komen-komen yang saya anggap bodoh tersebut. Ada baiknya sebelum berkomentar atau melakukan sesuatu hendaknya melakukan kroscek baik itu itu informasi maupun berita. Hoax memang sudah bertebaran tapi alangkah bijaknya bila diri kita sendiri yang menjadi filter dengan selalu melakukan kroscek informasi.

Secara pribadi saya menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh Indra dan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga terutama anak almarhum yang ditinggalkan. Memang aksi atau tindakan bunuh diri ini tidak dibenarkan oleh Agama, tapi setidaknya orang yang beragama atau mengaku memiliki agama sebaiknya mendoakan yang terbaik dan semoga semua amal dan ibadahnya selama hidup dapat diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin YRA.

AWAS PEDOFIL BERKUMPUL di MEDIA SOSIAL!

Marah, jijik, geram, miris, sedih! Begitulah ekspresi saya begitu mendengar berita yang sedang viral beberapa hari ini. Polisi berhasil membongkar komunitas pedofil di salah satu media sosial (medsos). Tidak tanggung-tanggung jumlah member atau anggota grup tersebut mencapai 7 ribu lebih. Sebenarnya saya sangat menyayangkan karena hanya sekitar 10 orang saja yang ditangkap dan diamankan oleh pihak kepolisian, mengingat member yang begitu banyak harusnya polisi dapat mengungkap lebih banyak lagi pelaku pedofil.

Well, pada awal konsepnya blog ini seharusnya menulis tentang opini dari sudut pandang orang ketiga atau setidaknya menulis opini dari kacamata kedua belah pihak. Tapi untuk kali ini seriously saya ogah. Karena saya termasuk yang ANTI dan dengan TEGAS MENOLAK keberadan pedofil di dalam atau di tengah-tengah masyarakat kita. Walaupun belum menikah dan mempunyai anak, tapi saya memiliki banyak keponakan yang sangat saya sayangi baik itu dari saudara atau sahabat. Sungguh tak sanggup membayangkan apabila salah satu dari mereka menjadi korban.

Dalam komunitas pedofil di salah satu jejaring sosial, mereka berbagi info dan tips bagaimana mencari, menghasut dan membujuk para korban. Bahkan tidak segan men-share atau membagikan foto maupun video para korban dari perilaku keji mereka. Ya keji karena mereka menggunakan berbagai macam tipu daya dan bujuk rayu agar korban yang masih anak-anak tersebut tertarik untuk mendekat atau mendatangi mereka. Salah satu cara yang mereka anggap ampuh adalah memelihara binatang seperti kelinci, kucing, ikan yang dianggap bisa menarik perhatian anak kecil.

pedo

Dan ada pula yang memberikan saran agar harus bisa sulap atau melucu sehingga korban atau calon korban tertarik dengan sulap atau guyonan mereka. Begitu sudah dekat atau akrab mereka akan mulai membujuk korban agar melakukan apa yang mereka inginkan. Karena korban dari kasus pedofil ini merupakan anak-anak jadi mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan atas permintaan pelaku tersebut salah dan tidak baik untuk dilakukan.

Melihat atau menanggapi berita mengenai pedofil ini menyulut emosi masyarakat khususnya para orang tua. Mereka menganggap dengan adanya komunitas pedofil tersebut cukup meresahkan dan berbahaya terutama setelah membaca cuplikan beberapa postingan di group tersebut yang sempat ter-capture dan menjadi viral di media sosial. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menuntut agar pelaku pedofil ini dihukum seberat-beratnya dan hukuman mati jika perlu. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang sahabah saya melalu salah satu akunnya di sosial media, beliau meminta agar Presiden Republik Indonesia Bapak  Joko Widodo segera memberikan perhatian agar para pelaku pedofil dapat diungkap dan diberikan hukuman semaksimal mungkin.

pedofil ce atha

Ada yang membuat saya heran adalah kenapa pada saat penangkapan pelaku pedofil ini identitas pelaku disembunyikan dan wajah mereka ditutupi oleh pihak kepolisian. Padahal seharusnya pihak kepolisian membuka dengan jelas mengenai identitas pelaku agar masyarakat bisa dan dapat lebih berhati-hati kelak. Second chance atau kesempatan kedua bagi saya tidak layak bagi para pelaku pedofil. Karena mereka telah merusak masa depan dan dapat mempengaruhi kejiwaan mereka kelak ketika sudah dewasa.

Saya merasa HAM juga tidak sepatutnya atau seharusnya membela mereka para pelaku pedofil tersebut. Pihak HAM juga harus melihak hak dari para korban yang sudah dirampas dengan keji. Melalui tulisan dan opini saya ini saya memohon kepada pihak berwajib yaitu Kepolisian Republik Indonesia dapat mengungkap kasus pedofilia dan menagkap para pelakunya sesegera mungkin.

 

pics source : google

Online Vs Konvensional, Siapa Salah?

Ribuan-Sopir-Lokal-Ancam-Turunkan-Baliho-Angkutan-Online_836968.jpg

Beberapa hari lalu sempat saya bahas demo sopir angkot di kota Malang, Jawa Timur. Memang bukan postingan terkait persoalan demo yang dilakukan tapi lebih mengarah ke rasa kagum dan bangga tentang solidaritas dan kepedulian masyarakat kota Malang dalam mengatasi masalah, khususnya masalah angkot yang melakukan mogok massal sehingga para penumpang pengguna angkot terlantar. Dimana para pelanggan atau pengguna angkot mayoritas adalah pelajar dan orang tua atau lansia.

Di postingan artikel kali ini saya lebih menyorot ke permasalahan angkutan online vs konvensional. Akan saya lihat tetap pada konteks sebagai pemerhati bukan memihak dari salah satu kubu. Semoga dari awal hingga akhir artikel ini saya tetap ditengah dan pembaca pun beranggapan demikan dan juga bukan bermaksud untuk menggiring opini pembaca. Mau condong kemanapun itu merupakan hak masing-masing dalam menyikapi masalah dan saya menghargai itu.

Sedikit flash back kebeberapa bulan lalu, saya sempat diskusi dengan seorang sahabat saya yang kebetulan memiliki usaha rental mobil. Dan kebetulan rental mobil usahanya ini baru saja ditawari untuk menjadi mitra oleh salah satu perusahaan angkutan berbasis online. Selanjutnya kita sebut saja PT. U. Menariknya adalah PT. U ini belajar dari pengalamannya ketika meluncurkan bisnis angkutan berbasis online ini ketika di Jakarta, sehingga ketika akan melakukan ekspansi ke Surabaya sudah melakukan antisipasi.

Salah satunya dari sisi perijinan, dibandingkan ketika memulai bisnis ini di Jakarta PT. U melakukan atau membuka kemitraan dengan perorangan, namun seiring dengan perjalanan waktu serta lika-liku hambatan yang dihadapi terutama dari pihak atau dinas terkait yang mulai memberlakukan aturan khusus untuk angkutan berbasis online dan salah satunya adalah PT. U ini. Berbekal pengalaman itu PT. U ketika melakukan ekspansi ke kota Surabaya sudah bukan lagi mencari mitra perorangan melainkan pemilik usaha rental mobil dimana ijin untuk operasi maupun kelengkapan surat ijin tentu sudah dikantongi oleh para pemilik usaha rental mobil (yang resmi dan terdaftar).

Sehingga ketika ada kendala terutama perijinan, perawatan kendaraan, dan lain-lain PT. U sudah tidak lagi pusing karena ijin mengikuti atau pengurusannya menjadi kewajiban pihak pemilik rental mobil. Praktis usaha bisnis angkutan berbasis online ini tidak membebani perusahaan baik secara perijinan maupun perawatan. Sebenarnya jika diamati tentang beban perawatan ini sama saja antara mitra perorangan ataupun yang sudah berbadan hukum seperti rental mobil hanya ketika harus dihadapkan dengan masalah perijinan mitra perotangan ini agak mengalami kesulitan.

Penolakan terhadap usaha atau bisnis angkutan berbasis online oleh angkutan konvensional ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi sampai ke bumi Eropa dimana tingkat pendidikan maupun kesejahteraan jauh diatas masyarakat Indonesia. Perlahan tetapi pasti angkutan berbasis online mulai menggerus keberadaan angkutan konvensional yang sudah ada dan semakin menggurita memperluas ekspansinya dari kota-kota besar sampai ke kota-kota kecil.

Ketika beberapa bulan lalu terjadi penolakan oleh sopir taksi konvensional tetapi permasalahan tersebut sudah selesai dan terjadi penyesuaian oleh pihak perusahaan taksi konvensional agar mampu dan dapat bersaing dengan taksi online atau angkutan berbasis online. Dimana harga atau tarif dari angkutan online ini memang jauh dari harga standard yang ditetapkan oleh perusahaan taksi konvensional. Kini taksi konvensional juga mulai merambah atau menggunakan aplikasi online serta menurunkan tarif guna menarik kembali pelanggan atau konsumen mereka yang sempat beralih ke angkutan berbasis online.

Kini penolakan kembali terjadi bukan oleh sopir taksi konvensional tetapi oleh sopir angkutan kota atau angkot. Tidak main-main penolakan kali ini lebih anarkis dan sampai menimbulkan korban jiwa. Di kota Tangeran, Banten beberapa hari yang lalu terjadi penabrakan terhadap salah seorang pengemudi ojek online oleh sopir angkot. Hal ini berbuntut panjang dimana rekan-rekan atau perkumpulan pengemudi ojek online ini melakukan aksi balasan. Tidak hanya berasal dari kota Tangerang saja namun para pengemudi itu berasal dari kota sekitar termasuk dari Jakarta.

Aksi dilakukan mulai dari sweeping angkot sampai aksi main hakim sendiri dimana angkot beserta sopirnya dicegat dan diserang oleh para pengemudi ojek online ini. Penyerangan ini terjadi di beberapa titik kota Tangerang dan sempat membuat warga kota Tangerang terganggu aktivitasnya. Selain kota Tangerang penolakan juga terjadi hampir bersamaan di beberapa kota lainnya di Indonesia seperti Malang dan Bandung. Di Bandung sempat terjadi kejadian dimana mobil pribadi diserang oleh sekelompok pengemudi angkot. Video rekaman tersebut sempat viral dan memperoleh tanggapan dari masyarakat pengguna sosial media. Netizen mengkritik atau mengkutuk kejadian tersebut dan menganggap kejadian tersebut tidak manusiawi, hal ini dikarenakan pada saat penyerangan masih ada orang dan balita di dalam mobil tersebut.

Banyak kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan angkutan konvensional dan angkutan berbasis online ini mendapat perhatian khusus dari masyarakat termasuk saya. Tidak sepenuhnya menyalahkan sopir angkot tapi saya menyayangkan kejadian-kejadian yang bersifat anarkis. Jika ditelisik lebih dalam dari sisi pengemudi angkot mungkin bisa dipahami kekesalan yang dialami sopir angkot. Dimana mereka harus mengejar setoran tapi disisi lain penumpang banyak yang beralih menggunakan angkutan berbasis online.

Tak bisa dipungkiri tarif angkutan berbasis online ini bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan angkutan konvensional. Ditunjang dengan kelebihan dapat menjemput calon penumpang serta mengantarkannya tepat pada lokasi atau alamat yang dituju. Bila dibandingkan dengan angkutan konvensional dalam hal ini angkot dimana para penumpang diharuskan untuk berada di jalur atau trayek yang dilalui oleh angkot dan tidak sedikit yang harus oper atau pindah angkot lebih dari satu kali untuk menuju lokasi yang dikehendaki.

Berbeda dengan angkutan konvensional, angkutan berbasis online ini tidak dipatok oleh setoran yang harus dibayarkan tiap hari dan jika kurang harus menutupnya dari kocek pribadi. Angkutan berbasis online ini menganut sistem bagi hasil, jika ingin hasil yang lebih besar maka pengemudi harus rajin-rajin mencari penumpang atau melakukan layanan lain yang disediakan oleh pihak perusahaan. Ditambah lagi murahnya tarif yang dikenakan oleh perusahaan kepada penumpang jauh lebih murah ketimbang angkutan konvensional. Dimana perusahaan angkutan berbasis online ini memiliki kelebihan atau keuntungan karena unit atau armada yang dimiliki bukan merupakan aset perusahaan sehingga beban perawatan dan operasionalnya seratus persen menjadi tanggung jawab mitra.

taksi

Jadi jika harus menyalahkan akar atau awal mula ini salah siapa? Ini kesalahan sistem dan perijinan dari mode transportasi yang ada. Pihak pemerintah tidak hanya Indonesia pada saat awal terbentuk sistem angkutan berbasis onine ini gagal mengantisipasi dengan landassan hukum dan perijinan. Pada saat dimana taksi konvensional jumlah unit atau armada mereka dibatasi, hal yang terjadi justru kebalikannya jumlah armada dari angkutan berbasis online ini tanpa batas. Asal ada mitra yang bersedia bekerjasama dan memenuhi persyaratan dan standard yang ditentukan maka jumlah armada angkutan yang berbasis online ini dapat bertambah dengan mudahnya.

Dari perijinan yang lain jika angkutan konvensional diharuskan memiliki ijin operasi dan menggunakan plat nomor kendaraan khusus yang berwarna dasar kuning dengan tulisan warna hitam maka hal tersebut tidak berlaku untuk angkutan berbasis online. Mereka dengan bebas menggunakan plat nomor hitam atau kendaraan milik pribadi untuk mengangkut penumpang umum. Dari segi biaya juga begitu jika perusahaan angkutan konvensional diwajibkan memiliki tempat yang dapat menampung armada ketika tidak beroprasi juga diwajibkan memenuhi standard kelayakan kendaraan bermotor untuk kendaraan umum atau berpenumpang. Belum lagi ditambah perawatan armada dan lain-lain.

Soal beban operasional yang harus ditanggung oleh angkutan konvensional ini jauh berbanding terbalik dengan angkutan berbasis online. Dimana perusahaan online ini tidak menanggung biaya perawatan, apalagi memiliki tempat untuk menampung unit atau armada karena semua adalah milik pribadi ataupun rental mobil mitra dari perusahaan. Banyaknya batasan dari pemerintah serta tekanan beban operasional yang harus ditanggung oleh perusahaan angkutan konvensional inilah membuat sopir dari angkutan konvensional merasa gerah maupun iri dengan perlakuan yang diterima angkutan berbasis online.

Tidak fair rasanya jika hanya mengkritisi dan menyalahkan pihak pemerintah atau dinas terkait perihal masalah online dan konvensional ini. Jika diperbolehkan memberikan solusi dan sukur-sukur jika bisa terbaca serta diterima dengan baik oleh pemerintah. Alangkah baiknya apabila pemerintah mulai membatasi jumlah unit atau armada angkutan berbasis online. Ditunjang juga dengan perawatan dan pemberian penyuluhan mengenai pelayanan serta pentingnya keselamatan dan kenyamanan dalam pengemudi terutama oleh angkutan kota yang masih dilindungi oleh perda dan jalur beroprasinya diatur oleh dinas perhubungan. Selebihnya bisa ditambahkan oleh orang-orang pintar dari dinas perhubungan terutama dalam sistem, perijinan serta tidak lupa juga pembatasan jumlah kendaraan bermotor dimana makin lama jumlahnya semakin tidak terkontrol sehingga kemacetan terjadi dimana-mana.

Dan keberadaan angkutan berbasis online ini tidak dapat serta merta dihilangkan begitu saja. Angkutan berbasis online ini dapat tumbuh dan berkembang dengan demikian pesatnya karena mampu beradaptasi dengan teknologi serta berhasil membaca dan menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi umum. Untuk beberapa waktu yang akan datang layanan angkutan berbasis online ini akan tetap ada dan keberadaannya dibutuhkan oleh masyarakat. Apabila pemerintah tidak berhasil mengatur sebuah sistem yang adil serta pihak dari penyedia angkutan konvensional tidak mampu memberikan layanan yang bisa berkualitas dan bersaing, niscaya perlahan tetapi pasti angkutan konvensional akan mati tergerus oleh derasnya perkembangnya teknologi.

source pic: google

NGALAM MBOISLOP #ngalammboislop

Beberapa hari terakhi di kota Malang terasa berbeda. Aksi mogok massal seluruh angkotan kota (angkot) di Malang sontak membuat lumpuh sebagian besar aktivitas masyrakat. Dampak yang paling dirugikannya atas aksi mogok masal ini tentu pengguna angkot diantaranya pelajar, lansia dan para karyawan.

Aksi kurang simpatik semakin diperlihatkan oleh pendemo dengan bebagai cara agar tuntutan mereka dipenuhi oleh pihak pemerintah. Cara-cara yang dilakukan antara lain berjalan beriringan dengan kecepatan yang sangat rendah sehingga terjadi penumpukan kendaraan yang hendak melintas di belakangnya. Dan beberapa angkot lainnya terlihat menutup akses jalan dengan memarkir kendaraan atau angkot mereka di beberapa titik kota Malang.

angkot
Aksi para sopir angkot di depan Bali Kota Malang.

Hal ini membuat warga atau masyarakat kota Malang merasa gerah dengan ulah para sopir angkot dalam melakukan aksinya. Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) yang melihat aksi demo sopir angkot ini semakin berlarut-larut maka mereka tergerak untuk menggalang aksi untuk melakukan layanan mengantar (jemput) secara ruka rela untuk para pelajar dan pengguna angkot yang terlantar akibat aksi demo tersebut.

Ide atau gagasan ini disambut baik oleh seluruh masyarakat Malang. Respon positif masyarakat ini dapat dilihat dari jumlah relawan yang terus bertambah. Angka relawan sudah ratusan atau bahkan ribuan hingga saat artikel ini ditulis. Mulai dari motor, mobil hingga minibus disiapkan untuk mengangkut para penumpang angkot yang terlantar. Para relawan dari komunitas ASLI Malang lebih memprioritaskan pelajar terutama pada saat jam masuk sekolah dan pulang sekolah. Namun tidak sedikit pula mereka membantu masyarakat lainnya yang membutuhkan bantuan.

Walaupun tidak memiliki ikatan apapun dengan kota Malang, tapi saya memiliki beberapa sahabat dan kerabat yang tinggal di Malang. Membaca postingan dan status mereka di sosial media yang mengeluhkan aksi sopir angkot dan kemudian beberapa share tentang aksi antar jemput secara suka rela oleh teman-teman relawan. Jujur saya juga merasa prihatin dengan kondisi di Malang sekaligus bangga terhadap apa yang telah sahabat-sahabat relawan lakukan untuk membantu sesama.

Sebenarnya aksi perlawanan terhadap angkutan online tidak hanya terjadi di kota Malang namun juga terjadi di beberapa kota di Indonesia dan Dunia. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan aksi sweeping dan diikuti dengan bentrokan antara pengemudi angkutan konvensional dengan pengemudi angkutan online.Terlepas apapun hasil tuntutan dari para sopir angkot tersebut hikmah yang dapat dipetik dari kejadian ini adalah rasa kepedulian masyarakat Indonesia masih tinggi. Dan anggapan bahwa masyarakat kita makin hari makin acuh tak acuh tidak benar adanya. Kota Malang di Jawa Timur ini menjadi bukti dan contoh nyata dari kepedulian masyrakat terhadap keadaan disekitarnya.

Hingga artikel ini diposting relawan di kota Malang terus melakukan aksinya. Semangat dan dukungan serta doa dari masyrakat kota Malang terhadap para relawan pun juga terus mengalir. Beberapa diantaranya mengirimkan makanan dan minuman ke posko-posko relawan. Dan ada pula yang rumah makan yang menggratiskan relawan untuk makan dan minum disana. Salut dan bangga terhadap solidaritas sahabat-sahabat di kota Malang.

asli malang
Salah satu postingan relawan angkutan gratis di Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang)

Ngalam Mboislop.. Salam Satu Jiwa!

 

source photo: Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang)

Sepasang ABG Ketahuan Mesum di Sebuah Fitting Room Salah Satu Mall di Surabaya!

fitting-room

 

Muke gile! Ya itulah ekspresi saya begitu mendengar berita ini dari seorang sahabat pada saat hangout semalam. Secara tidak sengaja sahabat saya itu membuka instagram dan kebetulan juga ada sebuah video menarik yang diunggah oleh akun @lambe_turah. Video tersebut cuplikan kejadian dimana sepasang muda dan mudi terpergok oleh SPG dan satpam di sebuah pusat perbelanjaan atau Mall di Surabaya.

Dalam salah satu adegan terdengar dan terlihat bahwa kedua ABG tersebut mendapat tekanan dan intimidasi. Terdengar beberapa kali satpam dan SPG membentah serta melarang kedua ABG tersebut memakai pakaian mereka kembali. Tidak puas dengan membentak, keduanya dipaksa keluar dengan pakaian yang tidak semestinya dan di permalukan di depan umum.

Kontan video tersebut dibanjiri oleh komentar-komentar Netizen. Beragam reaksi terhadap video yang berdurasi kurang lebih satu menit itu. Ada yang menyalahkan, ada yang menyayangkan, ada komen dengan candaan, dan banyak pula yang marah. Yang menarik adalah marahnya para Netizen ini diarahkan kepada satpam serta SPG yang berada di video tersebut.

Mereka marah karena satpam dan SPG di dalam video tidak memberi kesempatan kepada para ABG tersebut untuk menggunakan kembali pakaian yang mereka kenakan. Terlihat jelas ketika salah satu tangan mencoba menarik pakaian dan mengambilnya saat akan coba dikenakan kembali. Tak selang berapa lama mereka digiring keluar tanpa mengenakan pakaian yang pantas.

Miris jika kita menilik permasalahan ini lebih dalam. Salah ya jelas sekali bahwa kedua ABG ini telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya mereka lakukan dan melakukannya di tempat umum pula. Namun tidak seharusnya para satpam dan SPG itu memperlakukan mereka seperti itu. Atau setidaknya persilahkan mereka untuk mengenakan pakaian yang pantas sebelum disuruh keluar dari fitting room.

Melihat usia mereka pantaskah mereka diperlakukan secara kejam seperti itu? Dengan tertangkapnya mereka seharusnya itu sudah membuat mereka kapok. Hukuman sosial dengan cara mempermalukan mereka di depan umum dengan pakaian tidak layak justru akan membuat mereka down, menjadi bahan bully-an, dan terburuknya jika mereka sampai bunuh diri akibat menanggung malu.

Mereka bukan pelaku kriminal atau narkoba yang sifatnya merusak. Mereka salah karena melakukan sesuatu yang belum saatnya mereka lakukan. Mendidik dan mengarahkan remaja ABG seperti mereka merupakan jalan yang terbaik dengan memberi hukuman yang pantas untuk anak seusia mereka saya rasa sudah cukup. Dengan peran aktif keluarga, guru dan masyarakat dalam mendidik dan mengarahkan serta mengawasi juga diharapkan mampu membantu mereka dalam mencari jati diri dan kembali ke arah yang positif.